Senin, 13 Februari 2017

Ibu Kita Kartini (Part END)

Satu dua ditambah dikurang
Semua terus diulang-ulang
Ilmu merekat di dalam jiwa
Untuk bekal saat nanti tua

Aku tak ingin cerdas sendiri
Aku tak ingin pandai sendiri
Aku tak ingin bisa sendiri
Aku tak ingin tahu sendiri

Biarkan aku mengobati mereka
Mengobati kebodohan
Mengobati kemiskinan
Aku ingin menjadi dokter pendidikan

Semua murid bertepuk tangan, aku tidak tahu apakah puisiku bagus atau tidak, aku tidak peduli. Bu Tini menatapku lama, kemudian menitikkan airmata, sepertinya hanya aku yang sadar. Aku tidak mengerti mengapa. Bu Tini lalu
menyuruhku duduk kembali.

"Puisi yang bagus, Maryam. Semoga cita-citamu itu tercapai.... Selanjutnya siapa lagi ingin membacakan puisinya?"

Pada akhirnya aku tau mengapa Bu Tini menangis kala itu. Aku sendiri sempat merasa tidak punya harapan. Aku ingin menjadi guru, menjadi seperti Bu Tini. Mengajar dengan caranya sendiri, membagi ilmu bermanfaat tanpa mengharap
dibalas lebih. Tapi semua hanya angan. Di usiaku yang terbilang muda, aku menderita katarak. Keluargaku tak punya uang untuk mengobati mataku. Jadi aku harus berteman dengan pandangan buram tiap saat, menikmati segala sesuatu tanpa jelas bentuknya.

Saat Bu Tini menulis materi pelajaran di papan, aku dibolehkan melihat dari jarak dekat. Penglihatanku memang kurang baik, maka dari itu aku lebih mengandalkan ingatanku untuk mencatat materi pelajaran. Aku ingat Bu Tini pernah bilang, "dalam belajar tidak ada keterbatasan, kita saja yang suka membatasi
belajar dengan rasa malas,". Beliau juga sering memotivasiku untuk terus belajar, mangatakan padaku, "Jadilah seperti Maryam, ia tegar dan kuat dalam kesulitan apapun, selalu meminta pertolongan Allah. Itu mengapa orangtuamu memberimu nama Maryam."

Sudah beberapa hari ini Bu Tini terlambat datang ke sekolah. Biasanya Bu Tini yang akan menyambut kami di depan sekolah. Seperti ada yang berbeda dari Bu
Tini. Pernah sekali Bu Tini pingsan di sekolah. Tak ada yang tau apa yang terjadi dengan Bu Tini. Aku pernah bertanya pada Bu Tini mengenai kondisinya. Dengan
tersenyum beliau mengatakan baik-baik saja. Aku tahu Bu Tini sedang tidak baik-baik saja. Saat sepulang sekolah, Bu Tini manggilku ke ruang guru. Biasanya orang yang diminta ke ruang guru adalah siswa bermasalah. Ternyata Bu Tini
memberiku sebuah buku. Buku yang amat tebal, mungkin kumpulan catatan materi.

"Jaga baik-baik, Maryam. Ibu percaya kamu bisa menggantikan ibu suatu saat nanti. Ajarkanlah kebaikan-kebaikan. Kelak jika muridmu nanti baik, maka
gurunya pastilah baik." Aku benar-benar bingung bagaimana aku bisa
membacanya sementara mataku seperti ini.

Esok harinya sampai jam tujuh murid-murid menunggu Bu Tini tak kunjung datang. Aku dan teman-teman memutuskan untuk mendatangi rumah Bu Tini.
Langkah kaki kami. Sebuah bendera menancap tak jauh dari rumah Bu Tini. Perasaanku makin tak karuan. Orang-orang ramai berdatangan ke rumah Bu Tini. Aku memberanikan diri masuk. Seketika tubuhku kaku. Rasanya seperti tidak
berpijak, lemas sekali.

Silau mentari membangunkanku. Pusing rasanya mencoba mengingat kejadian kemarin. "Bu, Maryam kenapa?" tanyaku pada Ibu yang setia menjagaku.

"Kemarin kamu pingsan, Alhamdulillah sekarang sudah sadar. Ibu buatkan sayur
ya?" jawab Ibu, suaranya sedikit menangkan.

"Pingsan dimana, Bu?"

Ragu-ragu Ibu menjawab. "Di rumah Bu Tini, Maryam..."

Ya, aku mengingatnya. Aku telah kehilangan guru terbaik yang pernah ada. Kehilang sosok sahabat sekaligus Ibu kedua bagiku. Kehilangan juga dirasakan teman-temanku. Beberapa hari Mahzul dan teman-teman ziarah ke makam Bu Tini. Sekolah menjadi terasa
sepi. Belajar terasa tidak lagi mengasyikkan. Semua murid merindukan Bu Tini. Sampai suatu saat Ridho menemukan sebuah surat di ruang guru. Surat berisi
pesan Bu Tini, yang membuat kami berjanji untuk mau terus belajar.

Anakku, tak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan kerasnya batu karang pun dapat dihancurkan. Kejarlah ilmu dan amalkan, bagilah dengan orang lain karena ilmu yang bermanfaat akan selamanya mengalir sampai hari akhir itu tiba. Kita boleh miskin harta, tapi jangan miskin ilmu apalagi miskin iman.
Kartini

Sehari setelah aku siuman, beberapa orang berjas putih dan pejabat daerah mendatangi rumahku. Mereka bilang aku mendapatkan bantuan operasi untuk mataku dari pemerintah. Aku pun sudah mendapat donor kornea mata dari
seseorang entahlah siapa. Saat aku bertanya mereka tidak memberitahu, aku diberi sebuah surat dan hanya boleh dibaca saat operasiku berhasil. Aku dibawa ke kota untuk menjalani operasi. Syukurlah, kini aku bisa melihat masa depan yang cerah, melihat indahnya dunia. Harus aku berterima kasih pada Tuhan dan orang baik hati yang membuatku sembuh.

Kartini, pendekar bangsa, harum namanya. Bu Tini lah yang menunjukkan padaku “habis gelap terbitlah terang” yang sebenarnya. Mengajarkanku artinya berjuang dalam pendidikan. Aku tak mungkin menderita katarak selamanya,
kemudian aku akan menjadi buta. Tapi Bu Tini hadir sebagai penerang masa depanku. Maka aku yang akan melanjutkan perjuangan Bu Tini, Kartini bagiku, Kartini bagi SD Darah Juang.


Bekasi, Mei 2016

#30DWCJilid4 hari ke 13

This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar