Sabtu kelabu lagi. Ada apa dengan wajah murung itu? Apa karena tidak bisa pergi di Sabtu malam? Padahal lebih nyaman di dalam kamar.
Kutatap hujan dari balik jendela. Kukira hujan akan malu jika kutatap seperti ini. Tapi ternyata semakin besar. Sepertinya hujan sedang tidak bersahabat denganku. Hujan ingin aku tetap di rumah. Menatap kosong jendela yang dipenuhi tampias hujan. Menatap punggung yang sedang menunggu hujan reda di luar sana. Sesekali ia menjulurkan tangannya, merasakan dinginnya air hujan yang menggelitik. Pemilik punggung mungkin kedinginan, ia memeluk dirinya sambil menggosok telapak tangan. Rambutnya sedikit agak basah. Ah, kapan hujan akan selesai?
Beberapa anak kecil basah kuyup sambil memegang payung besar. Berlalu lalang di jalan menawarkan jasa 'ojek payung'. Seorang anak lelaki menawarkan payung besar terbaik miliknya, tapi orang itu menolak dengan halus. Ia lebih memilih menunggu di tempatnya sambil menatap hujan.
Aku bahkan tidak tahu seperti apa tatapannya, tapi mungkin rasanya senang saat ada yang menatapmu dengan tatapan yang menghangatkan. Aku masih setia dengan punggung itu. Sejak beberapa menit lalu, aku seperti hanyut dalam sebuah drama yang paling kusuka. Orang itu, ia menjulurkan tangannya lagi. Meraba hujan. Sepertinya hujan besar sudah berganti menjadi hujan kecil. Aku menatap punggung yang mulai menjauh. Ia menyatu bersama hujan-hujan kecil. Samar aku melihat lengkung di sudut bibirnya, sepertinya menyenangkan berdansa dengan hujan.
Sejak beberapa detik lalu, aku iri dengan hujan. Aku ingin menjadi hujan kecil. Walaupun suatu saat aku harus pergi digantikan pelangi, pasti ada waktu lagi aku akan kembali.
Bekasi, 15 Februari 2017
#30DWCjilid4 hari ke - 15
0 komentar:
Posting Komentar