Gambar: duniasehat.net
"Nila! Jangan jauh-jauh mainnya! Kalau sudah maghrib, bergegas pulang!" teriak ibu dari dalam rumah.
"Iya, bu."
Nila menghampiri keenam temannya yang sudah menunggu di luar rumah.
"Iya, bu."
Nila menghampiri keenam temannya yang sudah menunggu di luar rumah.
"Kita mau main apa?" tanya Nila.
"Main bola kaki!" teriak Ocan paling semangat.
"Ah, aku tidak suka main bola, Can." Ruri tidak setuju.
"Main masak-masak?" tanya Mimi.
"Sudahlah, laki-laki hanya bisa makan, Mi." Ruri masih tidak setuju.
"Petak umpat, semua orang bisa, kan? Main petak umpat saja, bagaimana?" Tawar Dino.
Semua tampak berpikir lalu akhirnya mengangguk setuju.
"Main bola kaki!" teriak Ocan paling semangat.
"Ah, aku tidak suka main bola, Can." Ruri tidak setuju.
"Main masak-masak?" tanya Mimi.
"Sudahlah, laki-laki hanya bisa makan, Mi." Ruri masih tidak setuju.
"Petak umpat, semua orang bisa, kan? Main petak umpat saja, bagaimana?" Tawar Dino.
Semua tampak berpikir lalu akhirnya mengangguk setuju.
"Ayo, kita main di kebun paman Chang!"
***
"Lima... Empat... Tiga... Dua... Satu... Sudah?"
"Sudaaah!"
Nila membuka matanya, lalu mulai mencari teman-temannya. Ia berjalan mengendap-endap.
Sskkk..ssskk.. Terdengar bunyi berisik dari balik semak.
"Ocan... Pong!" teriak Nila kegirangan.
Mimi paling tidak bisa bersembunyi. Ia bersembunyi di balik gerobak, kaki dan badannya tertutup, tapi kepalamya tidak. Seharusnya ia berjongkok.
"Mimi... Pong!"
"Ruri... Pong!" Ruri ketahuan saat akan pindah tempat bersembunyi.
"Ayo, Nila, cari Dino! Dia pasti sulit ditemukan."
Dino, dengan badannya yang kurus kecil dia bisa bersembunyi dimana saja. Dino yang bersembunyi di atas pohon hampir saja jatuh. Sayang, sendalnya yang benar-benar jatuh.
"Dinoooo! Pong!"
"Yeaaay Dino kena!" Sorak teman-teman Nila.
"Ah, satu lagi." Nila merasa masih ada lagi temannya yang belum ditemukan. Di sekitar kebun paman Chang ia tidak ada. Lalu dimana?
"Nila mau kemana? Ini sudah hampir maghrib, ayo pulang!" ajak teman-teman Nila.
"Aku masih belum sapat satu lagi!"
Teman-temannya saling memandang bingung.
"Jingga, kamu dimana? Ayo keluar, aku lelah!" Entah berapa jauh dari kebun paman Chang Nila mencari. Bahkan sampai ke sungai.
Nila melihat sekelebat bayangan di balik pohon. Ia yakin itu Jingga.
"Nila!"
Nila mencari pemilik suara. Benar, itu Jingga. Jingga yang melayang, menari-nari di atas tanah.
"Jingga.... "
#30DWCjilid4 hari ke-4

0 komentar:
Posting Komentar