Senin, 20 Februari 2017

Ini Hijrahku


Ramadhan 1431 H, bulan puasa tahun 2010, sekitar 6 tahun lalu hidayah menyapaku untuk pertama kalinya. Saat itu aku duduk di bangku SMP kelas 9. Sekolah mewajibkan tiap siswa muslim mengikuti pesantren kilat. Namanya juga kilat, tidak seperti pesantren di pondok yang bertahun-tahun, agendanya hanya tiga hari dan diadakan di sekolah.

Selepas sholat Dhuha siswa dipisah antara laki-laki dan perempuan lalu masuk ke kelas untuk mengaji Al-qur'an. Saat itu salah satu guru menyuruh kami membaca ayat-ayat tertentu. Salah satunya yang masih kuingat adalah surah Al-ahzab ayat 59.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganAl-qur'anAllah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Q.S Al-Ahzab :59)


Aku mulai membaca ayat tersebut dan membaca artinya. Ketika itu juga rasanya seperti ada yang menusuk hatiku dengan pedang. Dan ketika itu juga aku benar-benar baru tahu bahwa ada perintah Allah dalam Al-qur'an mewajibkan para wanita untuk berjilbab, menutupi aurat. Rasanya malu sekali, menyadari kenyataan bahwa selama ini aku tidak dekat dengan Allah. Kewajiban seperti itu saja aku baru tahu.

Singkat cerita, aku mulai berjilbab pada bulan Syawal 1432 H. Ya, setahun kemudian sejak pesantren kilat di SMP. Saat itu aku duduk di bangku SMA kelas 10. Orang tua sempat meragukanku , khawatir aku tidak Istiqomah dan melepas jilbabku. Aku tidak diam dan terus meyakinkan orang tua.
3 tahun kemudian, aku sudah menjadi mahasiswi di perguruan tinggi. Alhamdulillah aku masih istiqomah dengan jilbabku. Tapi sejak aku kuliah, sesuatu seperti menggangguku. Selama ini aku damai-damai saja dengan jilbab paris segi empat yang selalu kupakai dengan model 'lempar sana lempar sini'. Di kampus banyak sekali muslimah berjilbab tapi jilbab mereka panjang dan lebar. Bagiku yang tidak terbiasa, itu adalah aneh. Suatu waktu temanku pernah menyuruhku untuk mengulurkan jilbab sampai menutupi. Aku menurutinya sesekali. Sampai aku pada titik hijrah berikutnya.

Aku mengikuti sebuah kajian kemuslimahan. Di form presensi ditanyakan apakah aku sudah berjilbab syar'i, lalu kupilih pilihan belum. Aku tidak tahu bahwa itu membawaku pada jalan hijrah. Penyelenggara kajian memberiku sebuah jilbab yang berbeda dari yang sering kupakai selama ini. Mereka juga menyelipkan sebuah kertas yang sampai saat ini masih kusimpan. Kertas yang berisi penggalan ayat Surah An - Nur.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
(Q.S An-Nur : 31)


Namun, niatku untuk berjilbab syar'i sepertinya tidak direspon baik. Saat itu orang tuaku tidak menyukai jilbabku yang memanjang. Awalnya aku hanya diam, tapi tidak bisa selamanya dia. Bahkan beberapa orang di sekitarku menatapku dengan tatapan 'itu'. Aku tidak peduli dan akan tetap melanjutkan hijrah yang sudah kumulai.

Sejak saat itu hidupku mulai sedikit terang. Allah benar-benar menunjukkanku jalan hijrah. Mulai dari berjilbab syar'i hingga berhias syar'i. Masa-masa jahiliyahku hanya bumbu yang akan melengkapi cerita hidupku. Tapi hijrah adalah bahan utamanya. Dari sebuah jalan hidayah, beberapa jalan hidayah lainnya terbuka. Sungguh, aku sangat bersyukur. Di tengah proses hijrahpun, aku dikeliling orang-orang sholeh da sholehah yang selalu membantu. Walaupun sesekali tatapan aneh datang dari orang lain ataupun orang terdekat.

Banyak hal yang aku sadari ketika aku memilih hijrah. Tentu banyak tantangan yang datang dan aku harus siap menghadapinya untuk tetap istiqomah. Sesekali mungkin aku futur. Tapi aku harus terus mengingatkan diri agar tidak hijrah pada kefuturan.

Inilah jalan yang kupilih. Jalan hijrah. Ketika aku memilih hijrah, aku tidak peduli lagi bagaimana pandangan orang. Aku hanya memikirkan bagaimana Allah memandangku?
Tulisan ini, kisah sekaligus muhasabah untuk diri ini agar tetap istiqomah. Ayo hijrah, saudariku. Allah mungkin merindukanmu.

0 komentar:

Posting Komentar