Kamis, 10 Maret 2016

Pergi untuk Kembali

Matahari bersembunyi malu-malu. Langit yang tadi biru kini terlihat semburat jingga. Setelah berlelah-lelah ria berkutat dengan buku, aku bergegas pergi ke mesjid Al-Khwarizmi. Menghadiri kajian rutin setiap senin sore.

Biasanya aku mengahadiri kajian bersama teman-teman liqo-an ku. Ku telfon temanku Hamdan yang ternyata sudah berada di dalam mesjid. Aku segera berwudhu lalu memasuki mesjid. Kali ini pembicaranya adalah ustadz Kahfi, ustadz paling kece di kota ini. Pembawaannya asik dan mudah dimengerti. Sekarang beliau sedang membahas tentang sabar dan ikhlas.

"'Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar' Qur'an Surah Al-Baqoroh ayat155. Apapun musibah yang menghampiri antum sekalian, bersabarlah." Ayat penutup kajian hari itu.

Aku ingin menghampiri ustadz Kahfi untuk meminta kontaknya. Siapa tau bisa mengisi kajian di mesjid dekat rumahku. Saat aku merogoh saku, tidak kutemukan benda itu. Aku mencari di tas, tidak ada Hamdan dan Ardi mulai menyadari kegelisahanku.

"Kenapa, Lal?" tanya Hamdan.

"Ponsel ane, Dan. Kemana ya? Ente liat nggak, Dan?"

"Daritadi kan ane duduk dengerin doang, nggak ngapa-ngapain."

"Coba inget-inget lagi tadi terakhir ditaro mana?"

"Ane lupa, Di. Kayaknya di tempat wudhu deh."

Nihil. Hampir di penjuru masjid aku mencari ponselku tidak ketemu. Kesal rasanya. Dalam ponsel itu juga banyak data-data dan kontak-kontak penting. Aku menjalani bisnis dan mencari uang dari ponsel itu. Rasanya seperti hampa jika tanpa ponsel. Ah, bagaimana ini? Ponselku hilang sudang. Hampir semua orang-orang yang datang kajian dan yang ada di mesjid aku tanyakan. Sampai aku lupa untuk meminta kontak ustadz Kahfi. Aku frustasi. Menyesal kenapa kejadian kehilangan ponsel harus terjadi? Aku tidak pernah seceroboh ini. Awas saja jika aku menemukan siapa yang mengambil ponselku. Hamdan dan Ardi hanya geleng-geleng kepala melihatku mendumel. Menepuk-nepuk punggung menyuruhku sabar.

Melihat keributan kecil di luar mesjid, ustadz Kahfi menghampiriku.

"Ada apa ini?"

"Ponsel teman saya, Bilal, hilang, ustadz." Hamdan yang menjawab.

"Innalillahi..."

"Padahal tadinya saya mau minta kontaknya ustadz tapi malah hilang. Sial banget saya hari ini. Di dalam ponselnya juga banyak data-data dan kontak penting. Bagaimana kalau teman-teman organisasi mau menghubungi saya? Huh!"

"Ponselnya keluaran baru lagi. Uh, nyesek ya bro." goda Ardi. Menyebalkan.

"Ya sudah syukuri saja." kata ustadz Kahfi.

"Loh, kok syukuri? Saya kan lagi kena musibah, ustadz."

"Bersyukur antum pernah punya ponsel. Banyak loh di luar sana yang nggak pernah punya ponsel. Bahkan ada yang nggak tau ponsel itu apa."

"Tapi kan udah ilang, ustadz."

"Sabar dan ikhlaskan, akhi."

"Sulit, ustadz. Masih nyesek. Saya beli ponsel itu dengan uang saya sendiri, ustadz."

"Akh Bilal, Sesungguhnya yang pergi tidak benar-benar pergi. Ia pasti kembali tetapi pada tempat dan waktu berbeda. Seperti matahari yang pergi saat malam mulai tiba. Tapi ia datang lagi esoknya di pagi hari. Yang hilang juga tidak benar-benar lenyap. Ia ada dan tersembunyi oleh jarak dan waktu. Seperti bintang yang hilang. Ia tidak hilang, hanya saja bersembuny di balik jarak. Jarak yang jauh membuat bintang menjadi tidak terlihat. Mungkin hari ini ponsel antum hilang. Hanya hilang dari kehidupan antum dan berpindah tangan. Suatu saat dia bakal balik lagi. Pergi untuk Kembali. Entah kapan dan mungkin wujudnya pun berbeda."

"Maksudnya ustadz?" tanya Ardi.

"Barang yang paling kita cintai hilang hari ini, ikhlasin aja. Insyaa Allah di lain waktu diberi yang lebih oleh Allah. Banyakin doa, sedekah, dan dhuha. Mungkin kejadian ini juga peringatan buat Bilal. Supaya Bilal makin taat sama Allah."

“'Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya. HR. Bukhari 5641.' Tetap sabar dan ikhlas, ya. Kan, tadi pas kajian udah dapet ilmunya."

"Astagfirullah.. ane kok jadi kayak suuzon sama Allah ya? Terima kasih ya ustadz atas pencerahannya. Insyaa Allah sabar ikhlasnya ane coba."

Walaupun sedikit gundah, tapi rasanya hati ini sedikit lebih tenang. Aku juga mencoba memuhasabah diri. Mungkin diri ini jarang sekali bersyukur. Ya Allah, ampuni hamba....

10 bulan setelah kejadian ponsel hilang. Kini aku sedang berada di mesjid Nabawi. Di kota ini aku menjalani ibadah umroh. Alhamdulillah. Benar kata ustadz Kahfi dulu kala. Sekarang aku bisa umroh hadiah dari perlombaan design yang kujuarai. Jika dihitung-hitung hadiahnya memang melebihi harga ponselku. Mungkin ini rezeki yang pergi untuk kembali. Kembali dalam jumlah yang lebih. Alhamdulillah.

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

0 komentar:

Posting Komentar