Senin, 07 Maret 2016

Menulis itu Menciptakan Peradaban

Seiring waktu setiap manusia pasti akan berubah. Ia tumbuh dari kecil hingga besar. Dari yang hanya bisa menangis sampai bisa berbicara. Mungkin saya tidak ingat bagaimana saya dibesarkan saat masih kecil. Tapi saya bersyukur saya diajarkan untuk membaca dan menulis. Saya lebih bersyukur lagi pada Allah diberikan fisik yang lengkap.

Anak usia dini sebelum ia bisa menggoreskan pensil diatas kertas pastinya diajarkan dahulu untuk bisa berbicara hingga mengenal berbagai hal. Saya sering melihat anak usia dini sebelum bisa menulis huruf 'A' ia diajarkan terlebih dahulu untuk menyebut hurufnya. Jika kita memaknai proses tersebut, kita dituntut untuk membaca lalu kemudian menulis.

Ya, hal ini tentu berkaitan dengan kepenulisan. Untuk bisa menulis tentu kita harus banyak membaca. If you want to write, you must read more.

Membaca adalah salah satu hobi saya. Saya sengat senang membaca. Walaupun awalnya hanya hobi membaca komik saat kelas 7 SMP. Saya mulai membaca novel-novel teenlit dan Harry Potter mulai kelas 8 SMP. Hingga masa SMA bacaan saya kebanyakan novel. Saya bisa menghabiskan satu buku novel dalam sehari. Pernah saya disebut 'novel maniac' oleh guru fisika saya saat SMA. Kalau persediaan novel sudah habis, saya beralih ke wattpad. Karena novel lah, lahir hobi baru saya.

Menulis. Saya mulai menulis saat SMA, mengirim beberapa tulisan untuk lomba tapi tak satupun yang lolos. Saya tak pernah merasa itu adalah kegagalan. Saya anggap itu sebagai ujian untuk 'naik kelas'. Benar saja, saya dapat hikmah dari situ. Saya mulai memperbaiki niat saat menulis. Menulis bukan untuk mendapat puja-puji dari pembaca apalagi materi. Tapi bagaimana tulisan saya bisa menyentuh pembaca bahkan sampai menginspirasi.

Sejak memasuki dunia perkuliahan, bacaan saya mulai 'naik kelas' yang awalnya hanya novel-novel teenlit menjadi novel-novel yang luar biasa menginspirasi hingga buku bacaan islami. Saya mulai sadar, jika saya terus bergulat dengan dunia fiksi, lama-lama saya menjadi tidak realistis. Ya, seperti berharap pangeran tampan dan kaya datang melamar saya. *Ups.

Menulis tanpa membaca seperti orang tersesat, tidak tahu jalan. Kita tentu tidak ingin tersesat apalagi menyesatkan orang lain. Maka membacalah. Dalam Al-Qur'an pun yang pertama diperintahkan adalah bacalah bukan tulislah. Tetapi membaca dan menulis menjadi pasangan yang seharusnya tak terpisahkan.

Bagi saya menulis adalah menciptakan peradaban. Ketika kita meninggal nanti, tidak ada yang abadi di dunia selain karya kita. Dan penulis itu seperti Tuhan. Mampu menciptakan, menciptakan tokoh dan alur semau si penulis. Jelas pembaca tidak boleh protes. Memberi saran boleh. Bagaimana tulisan itu tergantung penulisnya. Saya teringat sebuah kutipan dari Pramoedya Ananta Toer:

"Seseorang boleh pandai setinggi langit. Tapi jika ia tidak menulis, maka ia akan hilang dari sejarah dan masyarakat. Menulislah, karena dengan menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Nah, kalau belum mulai menulis, menulislah sekarang. Kalau belum mulai membaca, sekarang anda sudah membaca tulisan saya kan...

0 komentar:

Posting Komentar