Anti menimbang-nimbang celengannya. Celengan berbentuk ayam berwarna putih. Melihat dari sisi yang berlubang, terlihat gumpalan-gumpalan uang yang sudah lumayan. Anti tersenyum sumringah. Sedikit lagi ia bisa membeli sepeda baru impiannya. Dengan hati-hati ia menaruh celengan itu di bawah kolong tempat tidur. Lalu ia pergi melaksanakan kegiatan rutinnya, berjualan gorengan.
Anti bersyukur hari ini gorengan yang ia jual laku habis terjual. Uang modal ia kembalilan pada Bu Eti yang membuat gorengan. Sisanya untuk ia bawa pulang. Lumayan uang dua puluh lima ribu bisa menambah isi celengannya.
Diperjalanan pulangnya dari berjualan, Anti bertemu Rahmat, teman sekelasnya. Rahmat terlihat membawa bakul yang tertutup kain. Rahmat melihat Anti, sekalian saja Anti sapa.
"Hai, Rahmat, mau kemana?"
"Aku mau ke sawah, Anti. Mencari belut."
"Iiiih... Aku tidak suka belut. Memangnya untuk apa mencari belut?"
"Untuk dijual, Anti. Untuk bantu Ibu."
"Ibumu apa kabar, Rahmat? Sudah sembuh?
"Besok aku mau bawa ibu ke klinik di kecamatan. Doakan saja."
Kondisi Rahmat tidak terlihat baik-baik saja. Badannya yang ringkih dan mata sayu terlihat seperti orang lemah. Tapi hatinya begitu kuat. Setelah ditinggal Ayahnya tiga tahun lalu, kini Rahmat yang usianya tiga belas harus menjadi tumpuan harapan hidup bagi Ibu dan ketiga adiknya. Rahmat yang malang. Saat kakinya tak kuat menopang tubuhnya pun ia tetap semangat mencari belut untuk dijual.
Anti pulang kerumah. Ibunya belum pulang. Ia pergi ke kamarnya. Mengambil celengan ayam di bawah tempat tidur. Menimang-nimang sebentar lalu membantingnya. Dengan air mata ia mengumpulkan uang-uang yang berserakan di lantai. Inilah satu-satunya yang berharga bagi Anti. Yang akan ia hibahkan kepada Rahmat. Ia teringat pesan guru mengajinya:
Bahagiakanlah orang lain meskipun engkau tidak bahagia.
Bisa jadi kebahagiaan itu hadir saat engkau membahagiakan mereka.
Kamis, 03 Maret 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar