Malam hari tampak ramai dengan lampu warna-warni. Deru suara kedaraan masih banyak bersahutan. Udara malam terasa menusuk tulang. Inilah kota yang tidak pernah tidur.
Saat anak-anak seusianya sudah disuruh cuci tangan dan kaki lalu, tidak bagi Aji. Masih mengais rupiah di jalanan ibu kota. Saat dirasanya cukup uang yang terkumpul, ia segera bergegas mencari makan. Tak kuasa menahan lapar sejak siang.
Ada satu yang menarik perhatiannya diperjalanannya menuju warung makan. Sebuah cahaya berwarna hijau. Ia terkagum dengan cahaya tersebut, mampu menembus jarak jauh. Membuatnya penasaran mencari dimana sumber cahaya tersebut.
Di sanalah, di sebuah tenda kecil yang menjajakan lampu-lampu. Ia ingin sekali memilikinya satu.
"Mau beli yang mana, dek?" Tanya seorang wanita paruh baya, umurnya sekitar lima puluhan.
"Itu berapa, bu?"
"Laser hijau dua puluh ribu, dek."
Aji menghitung uang disakunya. Lalu menyerahkan semuanya pada si penjual. Aji sangat senang bisa mendapatkan benda kecil itu. Pasti Ibunya juga ikut senang. Aju bergegas pulang. Sesampainya memanjat arap rumah. Menyalakan benda kecil tadi lalu mengarahkannya ke langit. Tak tahu sampai dimana cahaya hijau itu berujung. Tak peduli malam ini tidak makan. Yang jelas sekarang Aji sangat senang.
"Bu, ini sinyal dari Aji. Ibu liat kan? Artinya Aji baik-baik aja disini. Ibu gimana disana? Ibu baik-baik aja kan di surga sana?"
Angin malam berhembus. Dinginnya menembus tulang. Seolah itu adalah sinyal jawaban dari Ibunya.
Senin, 29 Februari 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
#menarik..
BalasHapus