Aku adalah segumpal air yang besar. Ditengah perjalanan tubuhku terpecah belah menjadi berbagai kepingan. Tubuhku melaju dengan kecepatan amat tinggi.
Aku bisa mendengar orang-orang mengumpat, mencaci maki diriku, kehadiranku dianggap membawa sial. Tapi ada juga yang senang dengan kehadiranku. Dan menganggapku berkah.
Saat bagian kecilku menyentuh tanah, menyeruaklah aroma petrichor yang begitu menenangkan. Bagian yang lain menyangkut dipermukaan daun, memberi sebuah harapan hidup yang baru bagi tumbuhan. Bagian yang lain terdampar di sebuah kain melengkung, merosot sebentar lalu jaduh jua ke bawah tanah. Bagianku yang lainnya lagi mengering dibeberapa tempat.
Berhari-hari aku datang ke bumi. Banyak orang makin mengumpat. Aku disebut-sebut dalam berita dan surat kabar. Tapi tak sedikit anak-anak yang senang bermain denganku.
Aku juga suka berkumpul dengan kawananku. Membuat kami terlihat seperti air bah. Membuat banyak orang makin mengumpat dan tidak senang dengan kehadiranku. Inilah ujian untuk mereka yang tidak bersyukur.
Aku ini anugrah juga berkah yang diturunkan Tuhan dari langit. Saat matahari terik dalam beberapa bulan mereka mengeluh dan selalu mengundangku untuk datang ke bumi mereka. Mereka takut usaha perkebunan atau persawahan mereka gagal total, maka dari itu mereka mengundangku. Mereka membutuhkanku. Tapi disaat aku lebih rajin datang ke bumi, orang-orang itu tak suka padaku. Tak suka akan kehadiranku. Aku merasa menjadi serba salah. Tidak bisakah mereka bersyukur?
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
Rabu, 24 Februari 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar