Sabtu, 27 Februari 2016

Black Looks Good on Me

      Aku menyisir rambut panjangku yang menipis. Legamnya begitu terlihat kontras dengan wajahku. Lalu menebalkan alis. Memoles bibir dengan warna merah muda. Sedikit taburan blush on agar terlihat merona. Aku berdiri dan berputar di depan cermin. Gaun hitam selutut yang kupakai hampir setiap hari terlihat lebih anggun ditimpa cahaya matahari. Ah, aku sudah cantik dan siap berangkat.

      Bunga-bunga indah sudah kusiapkan. Aku menelusuri jalan setapak. Melewati gundukan-gundukan tanah. Mataku mengedar mencari sebuah nama. Ketemu! 

      Menabur bunga-bunga diatas gundukan tanah dan batu nisan bernamakan suamiku, Revo. Membacakan sedikit doa yang kuhafal. Mengecup nisannya seolah benda itu adalah wujud suamiku. Lalu aku beralih pada gundukan tanah di sebelahnya. Ukurannya lebih kecil dengan nisan tak bernama. Kutaburi bunga lalu mengecup nisannya. Putra kecilku yang malang, yang tak pernah ku kenali wajahnya. Kini mereka pasti sudah bermain-main di syurga. Menyaksikan aku dari atas langit.

      Awan mulai bergemuruh. Tak lagi sebiru tadi pagi. Aku mulai berdiri dan merapihan pakaianku. Seketika tubuhku lemas. Kepalaku terasa seperti ditimpa batu besar. Benda jahat itu pasti sedang berkembang biak dalam tubuhku. Terasa hembusan malaikat dibahuku seolah mengingatkan waktuku tak akan lama. Semua terasa gelap. Hitam legam seketika. Seperti kehidupanku sekarang. Tak ada lagi warna. Kehidupanku segelap langit hari ini. Hitam mungkin cocok untukku.

0 komentar:

Posting Komentar