Selasa, 16 Februari 2016

Sendirian

#FlashFiction
.
.
.

     Tepat empat puluh hari kepergian Ayah. Ia tewas dibunuh kekasihnya sendiri. Ah, panggilan 'Ayah' tidak cocok untuknya. Mana ada ayah yang selalu menyiksa anak-anaknya? Memukuli istrinya? Tidak memberi nafkah? Tidak bertanggung jawab. Mungkin itu karma.

     Tak ada acara empat puluh harian. Tak ada yang mau mengurusi. Ibu sakit dan kak Doni baru pulang selarut ini. Selalu dalam keadaan mabuk. Selalu.

"Darimana aja baru pulang? ibu nyari kakak mulu dari tadi," sejak pagi ibu tidak henti-hentinya memanggil nama anak pertamanya itu.
"Bukun urusan lo, anak kecil!" ia membentakku, menamparku, kemudian melengos masuk kamar mandi.

***

     Pagi hari kak Doni sudah terbujur kaku. Tubuhnya membiru di dalam bath up. Ibu histeris. Mungkin itu karma.

     Ini yang aku mau. Semua perhatian ibu hanya untukku. Untuk apa masih memperhatikan suami dan anak yang sudah memperlakukan ibu dengan kasar. Biarlah Ayah mati tidak dengan tanganku langsung, tetapi kakakku.... polisi tidak akan tahu aku yang membunuhnya. Aku ingin semua perhatian ibu hanya untukku. Tapi ibu juga pergi. 

     Ibu begitu syok kehilangan suami dan anak kesayangannya. Hingga akhirnya penyakit jantungnya kambuh. Dua hari di rumah sakit kemudian Ibu meninggal. Tak apa. biarlah hartanya yang menjadi temanku. Membayar semua perhatian Ibu. Mungkin itu karma.

2 komentar:

  1. Sukaaa mbak. Keren alurnya .. Tapi ngegantung pengen ada lanjutannya 😊😄😚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah hehe makasih mbak^^ wah tapi nggak ada lanjutannya hehehe

      Hapus