Senin, 26 September 2016

Senyum Terakhir

Pagi ini ku tebar senyum pada dunia
Tapi dunia malah muram
Malam ku tebar senyum pada dunia
Tapi dunia nampak tak senang

Pagi gelap gulita
Malam terang benderang
Tak peduli,
aku tetap tersenyum pada dunia
Berharap,
Esok dunia membalas senyumku

Esok tiba,
dunia tak akan membalas senyumku
Karna hari itu, hari terakhir dunia melihat senyumku




Jakarta, 26 September 2016

This entry was posted in

Minggu, 25 September 2016

Negeri Sandiwara

Negeriku bagai syurga..
Aman, bersih, dan indah
Tak ada anak kelaparan karna padi melimpah
Semua bisa kudapat dengan mudah

Negriku bagai syurga..
Semua orang baik dan ramah
Para pemimpin yang amanah
Rakyat tentram sejahtera

Ini negeri syurga!
Minta saja uang.. Uang.. Uang..
Kau dapat uangmu!
Minta saja tahta
Kau dapat tahta

Inilah negeriku.. Negeri sandiwara





Jakarta, 22 September 2016

This entry was posted in

Rabu, 24 Agustus 2016

Terlena

Terlena ku pada waktu
Kala luang menjadi terbuang
Kala padat tak ada tempat

Terlena ku pada usia
Pikirku di kala muda, tua itu masih panjang
Saat masa itu datang, menyesal rasanya

Terlena ku pada manusia
Mereka semua baik, ternyata tidak
Mereka semua sama, ternyata tidak

Terlena ku pada harta
Bahagia rasanya memiliki segala
Lalu gigit jari saat segala itu habis

Terlena ku pada dunia
Kuberikan seluruh untuk dunia
Kemudian akhirat membenciku

Terlena ku terlena..

•••

Lebih sering kita memikirkan hal tidak penting, dibanding hal yang lebih penting.

Lebih sering kita melakukan hal tidak berguna, dibanding hal yang banyak guna.

Lebih sering kita meminta yang disuka, dibanding yang dibutuhkan.

Lebih sering kita menyerah, dibanding bangkit lagi.

Lebih sering kita percaya, dibanding mencari tahu.

Lebih sering kita membuka layar ponsel, dibanding membuka Al-qur'an.

—piyi

Minggu, 14 Agustus 2016

Menjemput Cita dan Cinta di Kampung Rawadas

Rawadas adalah sebuah kampung kecil yang letaknya bersebelahan dengan Taman Pemakaman Umum (TPU) Pondok Kelapa. Siapa yang sadar? Kampung kecil ini berada di ibu kota negara Indonesia—Jakarta.

Tidak masalah dengan letak. Kampung Rawadas kini menjadi persinggahan baru bagi para aktivis kampus pegerakan intelektual.

17 hingga 23 Juli 2016, peserta Pelatihan Kepemimpinan Mahiswa UNJ melaksanakan rangkaian pelatihan berupa pengabdian masyarakat di kampung Rawadas. Diawali dengan analisis sosial dan lingkungan pada Minggu, 17 Juli 2016. Penduduk sekitar merupakan kalangan menengah kebawah dengan profesi kebanyakan pemulung dan pedagang kecil. Rumah-rumah terlihat tidak permanen—tanpa tembok dan atap genteng, melainkan dinding yang hanya dibalut semen atau dari kayu dan beratap asbes. Setelah ditelurusi ternyata pemukiman yang amat dekat dengan TPU ini bisa saja suatu waktu digusur untuk perluasan TPU.  Saluran air yang dangkal di sekitar pemukiman terlihat penuh serta menghitam. Ditambah minimnya tempat sampah dan tidak adanya tempat pembuangan akhir.

Saat pertama memasuki wilayah kampung Rawadas, terlihat sebuah saung yang ternyata adalah tempat belajar anak-anak warga setempat. Kondisinya tidak bisa dibilang bagus. Dinding yang mengelilingi tidak tertutup walau hanya sebatas pinggang akhirnya hanya ditutup dengan banner agar tidak terlalu basah saat kena tampias hujan. Masalah lain datang dari atap yang banyak lubangnya.

Seluruh kondisi ini membuat para peserta harus memutar otak. Berdiskusi mencari solusinya. Didapatkan hasil harus mencari dana sebanyak 34 juta untuk pembangunan tempat sampah, saung baru, dan renovasi saung.

Selama sekitar 4 hari peserta mencari dana dari donatur maupun menjual berbagai makanan dan minuman. Didapat dana sebanyak Rp28.999.100,00. Memang tidak mencapai target tapi cukup untuk memenuhi segala kebutuhan yang diperlukan.

Satu minggu lamanya para peserta berjibaku dengan warga setempat merenovasi saung, membangun saung baru, dan tempat sampah. Selain itu ada pula kegiatan belajar sambil bermain dengan anak-anak warga dan memberikan ilmu keterampilan seperti membuat bross pada ibu-ibu. Alhamdulillah niat baik kami disambut dengan baik pula oleh warga.

Hari terakhir kami di kampung Rawadas, kami membuat sebuah pesta rakyat. Menampilkan pentas seni dari adik-adik yang sudah kami latih. Mengumpulkan warga setempat pula.

Seminggu sudah kami di kampung Rawadas. Mengabulkan mimpi bagi langkah-langkah kecil anak kampung Rawadas yang ingin belajar dengan nyaman. Seminggu sudah tiap kali kami mau ke kampung Rawadas harus melewati pemakaman, seolah diingatkan pada tempat kita akan kembali. Seminggu sudah. Di hari terakhir, wajah-wajah ceria adik-adik mulai terlihat muram. Tidak ingin ditinggal. Juga dengan kami. Akan selalu rindu dengan adik-adik di kampung Rawadas. Sesekali kami akan kembali kesana menyapa cinta yang menunggu kami tiap harinya.

Saya merasa bersyukur. Menjadi bagian dari keluar ini. Keluarga PKM UNJ 2016. Mengajarkan saya banyak hal baru dalam satu minggu. Pelajaran hidup adalah ilmu berharga yang saya dapat disini. Terima kasih teruntuk panitia atas kesempatannya. Semoga kelak kami para peserta bisa menjadi apa yang panitia inginkan, menjadi apa yang bangsa ini harapkan—pemuda yang dirindukan bangsa.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Pendidikan Indonesia!


(Walaupun masa pengabdian kami sudah selesai terkadang kami masih suka datang ke kampung Rawadas. Menyelesaikan hal yang belum tuntas atau sekedar bertemu adik-adik. Adik-adik itu...mereka menangis saat kami pergi. Sungguh dik, kami tidak akan pergi. Sebagian cinta kami tertinggal di kampung Rawadas. Tegar lah dik, dan jemput cita-citamu. Buat bangga orangtua dan bangun Indonesia Madani.)

Sabtu, 06 Agustus 2016

Sebut Aku Bodoh





Aku punya mimpi. Mungkin tiap orang punya mimpi. Tapi aku bingung, apa mimpiku? Saat aku bermimpi untuk sesuatu, aku berpikir tidak akan menjadi nyata. Bagaimana caranya aku bisa mewujudkan mimpi itu?

Kesempatan datang silih berganti. Menyapaku diriku yang membisu. Aku seperti penonton yang terlarut dalam drama, menonton para pemain itu terus bergerak dengan tujuan. Aku hanya membisu, dan melewati kesempatan-kesempatan. Menyisakan penyesalan.

Sebut aku bodoh. Bahkan aku masih diam dan masih menghitung peluang berapa banyak kesempatan lagi yang akan datang. Masih terus berangan bahwa aku bermimpi.

Aku lelah bermimpi. Aku lelah hanya membisu. Aku lelah menghitung. Aku lelah menunggu. Aku akan bangkit. Aku akan mewujudkan mimpi-mimpi itu. Aku hampir saja sampai. Padahal aku belum melakukan sesuatu. Sebut aku bodoh. Ternyata aku hanya bermimpi. 

Darimana aku harus memulai mewujudkannya?



Sabtu, 23 Juli 2016

Public Relation

PKM UNJ 2 hari pertama yang dilaksanakan pada hari rabu, 14 Juli 2016, di gedung FMIPA ruang 1.6-1.7 berlangsung dari pukul 08, pertama adalah penyampaian materi. Materi yang dibahas kali ini adalah tentang "Public Relation" yang narasumbernya adalah oleh Bapak Yusro selaku mantan Kadept. Sospol BEM UNJ dan salah satu founder dari KPM UNJ, yang di moderatori oleh kak Hafizh (Matematika 2013). Berikut beberapa poin dari materi yang disampaikan:

Public Relation (Relasi Publik) merupakan aktivitas untuk mengelola komunikasi antar organisasi dan publiknya dengan cara memikirkan, merencanakan dan mencurahkan daya untuk membangun dan menjaga saling pengertian antara organisasi dan publiknya.
Beberapa tujuan dari PR antara lain: memberikan penerangan kepada masyarakat, melakukan persuasi untuk mengubah sikap dan perbuatan masyarakat secara langsung, dan berupaya untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu badan/lembaga sesuai dengan sikap dan perbuatan masyarakat atau sebaliknya
PR dalam organisasi. Syaratnya: Kemampuan untuk berkomunikasi, mengatur, berbaur, berkepribadian integritas, dan berimajinasi.
Esensi PR antara lain: memperoleh good will kepercayaan saling pengertian, menciptakan opini publik yang favourable menguntungkan semua pihak, dan untuk menciptakan hubungan yang harmonis.

Setelah materi selesai, acara dilanjutkan dengan arahan oleh kak Icha mengenai tugas peserta selanjutnya, yaitu selama kurang lebih 40 menit, kami diharuskan mempersiapkan penampilan sosio-drama yang masing-masing kelompok yang berjumlah empat mendapatkan masing-masing satu tema. Keempat temanya antara lain: Isu Reklamasi Teluk Jakarta, Bom Sarinah, Vaksin Palsu, dan Tax Amnesty. Kelompok pertama yang maju mementaskan drama yang mereka ciptakan sedemikian rupa sehingga selain mendapatkan kejenakaannya, kami juga bisa memahami isu tersebut. Setelah sosio drama adalah presentasi penugasan dari tiap kelompok.

PKM UNJ 2 hari kedua, masih ditempat yang sama. Acara dimulai sekitar pukul 08 agendanya adalah masih presentasi kelompok lanjutan hari kemarin. Setelahnya yakni persiapan untuk PKM UNJ 3.

Ada apa di PKM UNJ ? Nantikan ceritanya!

Senin, 04 Juli 2016

Ketika Ramadhan Akan Pergi

Ketika Ramadhan akan pergi
Namun rindu belum terobati
Menyisakan banyak harapan 
Berharap masih ada kesempatan

Ketika Ramadhan akan pergi
Tangis sesal itu kembali
Waktu terbuang tanpa amalan
Dosa melimpah tanpa ampunan

Ketika Ramadhan akan pergi
Baru tersadar akan maksiat
Teringat pada Sang Pemberi Rahmat
Lalu terburu untuk taubat

Kawan, Ramadhan akan pergi…
Entah kapan akan kembali
Kawan, terus kejar amalanmu…
Bagaimana kalau ini Ramadhan terakhirmu?

...


Bismillah...
Sudah 29 hari terlewati sudah kita berpuasa. Menahan lapar dan haus. Menahan hawa nafsu. Tidak terasa, kawan. Satu malam lagi kita bertemu hari itu. Hari kemenangan. 

Apa saja yang sudah kamu persiapkan, kawan? Lusinan topless berisi kue? Baju baru? Ketupat dan opor?

Ah, tanpa itu semua kita masih bisa mendapat hikmah, kawan. Kita hanya perlu mempersipkan niat. Ya, niat untuk istiqomah dengan ibadah yang meningkat semenjak Ramadhan.

Sedih, terasa cepat Ramadhan akan pergi. Tapi kawan seharusnya ibadah itu juga tidak ikut pergi bersamanya. Sebenarnya bukan Ramadhan yang kita sembah tapi Allah. 29 hari kemarin kita beribadah bukan karna Ramadhan tetapi untuk Allah. Mungkin hal ini pernah terjadi pula di diri saya dan juga kawan-kawan, saat Ramadhan pergi, pergi pula semangat ibadah itu. Naudzubillah... Semoga Allah senantiasa menjaga hati-hati kita untuk tetap istiqomah. Aamiin

Kita tidak tahu sampai kapan Allah meminjamkan ruh pada raga ini. 
Kita tidak tahu apakah tahun depan masih bisa kita berjumpa dengan Ramadhan.
Kita tidak tahu apakah Ramadhan tahun ini adalah Ramadham terakhir kita.
Wallahualam...

Kita hanya bisa memohon pada Allah untuk dipertemukan lagi dengan Ramadhan-ramadhan berikutnya dan memaksimalkan ibadah di satu malam terakhir yang tersisa kini...