Minggu, 23 Oktober 2016

Kanvas Muram




Aku menanti seperti kanvas polos

Menunggu dilukis dengan goresan cinta

Lalu kau datang menggenggam kuas, menatapku

Hatiku nelonjak senang

Ku kira itu kamu, takdirku

Tapi kau hanya lewat saja

Tanpa menggores sedikit tinta

Kini aku harus menunggu seribu tahun lagi

Menanti pemilik tulang rusuk yang kucuri

Aku menanti seperti kanvas yang muram



Bekasi, 24 Oktober 2016
This entry was posted in

Jumat, 30 September 2016

Mahasiswa Bukan (Masih)siswa

Agustus 2014, dua tahun berlalu sejak saya menginjakkan kaki di sebuah tempat yang saya nggak pernah bayangin bisa ada di sini. Saya masih ingat, seorang diri kebingungan kesana kemari nyari loket FMIPA. Akhirnya ketemu dan dikejutkan dengan antrean panjang verifikasi berkas SNMPTN. Lolos verifikasi saya kira udah bisa jadi mahasiswa.

Ternyata untuk menjadi mahasiswa sungguhan nggak sampai disitu aja. Saat itu saya baru dengar istilah MPA (Masa Pengenalan Akademik). Wajib diikutin untuk setiap mahasiswa baru. Mungkin sejenis MOS yang dimarah-marahin dan pakai atribut nggak jelas, pikir saya. Ternyata nggak separah waktu MOS.

Saat MPA, saya dan teman-teman disuruh datang jam 5 pagi! Kuliah aja nggak ada yang jam 5 pagi! Lagi pula belum ada angkot sepagi itu. Saya pernah sekali terlambat 2 menit datang MPA. Saya kira paling dihukum push up atau lari di lapangan seperti jaman SMA dulu. Ternyata ini hanya pikiran ala anak SMA. Bukannya disuruh push up saya malah disuruh bikin esai refleksi diri. Padahal telatnya cuma 2 menit, loh. Akhirnya saya sadar, ada dosen yang nggak menolerir keterlambatan.

Di MPA juga ada penugasan, disuruh bikin esai tentang mahasiswa ideal. Saat SMA dulu biar tugas cepat kelar saya hanya copy paste artikel dari mbah gugel. Cara yang sama saya lakukan untuk bikin penugasan esai, toh hanya dikumpulkan. Lagi-lagi ini pikiran ala siswa, ternyata esainya di cek dan...ketauan deh. Esai saya dan beberapa orang dicap plagiasi. Wah, nggak nyangka. Saya juga sadar, skripsi nanti kalau ketauan plagiasi bisa dituntut hukum, tuh.

Dari MPA akhirnya saya belajar banyak kalau dunia kampus dan masa SMA itu beda. Kita disiapkan untuk menjadi mahasiswa sejati bukan siswa yang manja.

Mahasiswa baru biasanya mengalami shocking culture. Karna berbeda budaya saat SMA dan budaya kampus. Saya dari Fakultas MIPA, yang terkenal religiusnya. Saat menjadi maba dulu saya merasa asing dengan budaya MIPA yang religius dan budaya kampus yang begitu intelek. Lalu saya disadarkan lagi kalau saya bukan lagi siswa yang berpikiran sempit dan menghabiskan waktu mencari hiburan. Sekarang saya amat bersyukur ada di tempat ini. Tittle 'Maha' kini tersemat dalam status kita saat ini. Sudah seharusnya cara berpikir dan tingkah laku mahasiswa lebih baik dari siswa.

Dan teruntuk adik-adik saya, Penakluk Peradaban (FMIPA'16), saya hanya berharap kalian mampu menaklukkan jalan juang kalian untuk empat tahun ke depan. Sudah bukan saatnya duduk diam lalu mengoceh sendiri, bangun dan lantangkan kebaikan. Karna kita, kalian bukan lagi siswa tapi mahasiswa.

Hidup Mahasiswa

Senin, 26 September 2016

Senyum Terakhir

Pagi ini ku tebar senyum pada dunia
Tapi dunia malah muram
Malam ku tebar senyum pada dunia
Tapi dunia nampak tak senang

Pagi gelap gulita
Malam terang benderang
Tak peduli,
aku tetap tersenyum pada dunia
Berharap,
Esok dunia membalas senyumku

Esok tiba,
dunia tak akan membalas senyumku
Karna hari itu, hari terakhir dunia melihat senyumku




Jakarta, 26 September 2016

This entry was posted in

Minggu, 25 September 2016

Negeri Sandiwara

Negeriku bagai syurga..
Aman, bersih, dan indah
Tak ada anak kelaparan karna padi melimpah
Semua bisa kudapat dengan mudah

Negriku bagai syurga..
Semua orang baik dan ramah
Para pemimpin yang amanah
Rakyat tentram sejahtera

Ini negeri syurga!
Minta saja uang.. Uang.. Uang..
Kau dapat uangmu!
Minta saja tahta
Kau dapat tahta

Inilah negeriku.. Negeri sandiwara





Jakarta, 22 September 2016

This entry was posted in

Rabu, 24 Agustus 2016

Terlena

Terlena ku pada waktu
Kala luang menjadi terbuang
Kala padat tak ada tempat

Terlena ku pada usia
Pikirku di kala muda, tua itu masih panjang
Saat masa itu datang, menyesal rasanya

Terlena ku pada manusia
Mereka semua baik, ternyata tidak
Mereka semua sama, ternyata tidak

Terlena ku pada harta
Bahagia rasanya memiliki segala
Lalu gigit jari saat segala itu habis

Terlena ku pada dunia
Kuberikan seluruh untuk dunia
Kemudian akhirat membenciku

Terlena ku terlena..

•••

Lebih sering kita memikirkan hal tidak penting, dibanding hal yang lebih penting.

Lebih sering kita melakukan hal tidak berguna, dibanding hal yang banyak guna.

Lebih sering kita meminta yang disuka, dibanding yang dibutuhkan.

Lebih sering kita menyerah, dibanding bangkit lagi.

Lebih sering kita percaya, dibanding mencari tahu.

Lebih sering kita membuka layar ponsel, dibanding membuka Al-qur'an.

—piyi

Minggu, 14 Agustus 2016

Menjemput Cita dan Cinta di Kampung Rawadas

Rawadas adalah sebuah kampung kecil yang letaknya bersebelahan dengan Taman Pemakaman Umum (TPU) Pondok Kelapa. Siapa yang sadar? Kampung kecil ini berada di ibu kota negara Indonesia—Jakarta.

Tidak masalah dengan letak. Kampung Rawadas kini menjadi persinggahan baru bagi para aktivis kampus pegerakan intelektual.

17 hingga 23 Juli 2016, peserta Pelatihan Kepemimpinan Mahiswa UNJ melaksanakan rangkaian pelatihan berupa pengabdian masyarakat di kampung Rawadas. Diawali dengan analisis sosial dan lingkungan pada Minggu, 17 Juli 2016. Penduduk sekitar merupakan kalangan menengah kebawah dengan profesi kebanyakan pemulung dan pedagang kecil. Rumah-rumah terlihat tidak permanen—tanpa tembok dan atap genteng, melainkan dinding yang hanya dibalut semen atau dari kayu dan beratap asbes. Setelah ditelurusi ternyata pemukiman yang amat dekat dengan TPU ini bisa saja suatu waktu digusur untuk perluasan TPU.  Saluran air yang dangkal di sekitar pemukiman terlihat penuh serta menghitam. Ditambah minimnya tempat sampah dan tidak adanya tempat pembuangan akhir.

Saat pertama memasuki wilayah kampung Rawadas, terlihat sebuah saung yang ternyata adalah tempat belajar anak-anak warga setempat. Kondisinya tidak bisa dibilang bagus. Dinding yang mengelilingi tidak tertutup walau hanya sebatas pinggang akhirnya hanya ditutup dengan banner agar tidak terlalu basah saat kena tampias hujan. Masalah lain datang dari atap yang banyak lubangnya.

Seluruh kondisi ini membuat para peserta harus memutar otak. Berdiskusi mencari solusinya. Didapatkan hasil harus mencari dana sebanyak 34 juta untuk pembangunan tempat sampah, saung baru, dan renovasi saung.

Selama sekitar 4 hari peserta mencari dana dari donatur maupun menjual berbagai makanan dan minuman. Didapat dana sebanyak Rp28.999.100,00. Memang tidak mencapai target tapi cukup untuk memenuhi segala kebutuhan yang diperlukan.

Satu minggu lamanya para peserta berjibaku dengan warga setempat merenovasi saung, membangun saung baru, dan tempat sampah. Selain itu ada pula kegiatan belajar sambil bermain dengan anak-anak warga dan memberikan ilmu keterampilan seperti membuat bross pada ibu-ibu. Alhamdulillah niat baik kami disambut dengan baik pula oleh warga.

Hari terakhir kami di kampung Rawadas, kami membuat sebuah pesta rakyat. Menampilkan pentas seni dari adik-adik yang sudah kami latih. Mengumpulkan warga setempat pula.

Seminggu sudah kami di kampung Rawadas. Mengabulkan mimpi bagi langkah-langkah kecil anak kampung Rawadas yang ingin belajar dengan nyaman. Seminggu sudah tiap kali kami mau ke kampung Rawadas harus melewati pemakaman, seolah diingatkan pada tempat kita akan kembali. Seminggu sudah. Di hari terakhir, wajah-wajah ceria adik-adik mulai terlihat muram. Tidak ingin ditinggal. Juga dengan kami. Akan selalu rindu dengan adik-adik di kampung Rawadas. Sesekali kami akan kembali kesana menyapa cinta yang menunggu kami tiap harinya.

Saya merasa bersyukur. Menjadi bagian dari keluar ini. Keluarga PKM UNJ 2016. Mengajarkan saya banyak hal baru dalam satu minggu. Pelajaran hidup adalah ilmu berharga yang saya dapat disini. Terima kasih teruntuk panitia atas kesempatannya. Semoga kelak kami para peserta bisa menjadi apa yang panitia inginkan, menjadi apa yang bangsa ini harapkan—pemuda yang dirindukan bangsa.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Pendidikan Indonesia!


(Walaupun masa pengabdian kami sudah selesai terkadang kami masih suka datang ke kampung Rawadas. Menyelesaikan hal yang belum tuntas atau sekedar bertemu adik-adik. Adik-adik itu...mereka menangis saat kami pergi. Sungguh dik, kami tidak akan pergi. Sebagian cinta kami tertinggal di kampung Rawadas. Tegar lah dik, dan jemput cita-citamu. Buat bangga orangtua dan bangun Indonesia Madani.)

Sabtu, 06 Agustus 2016

Sebut Aku Bodoh





Aku punya mimpi. Mungkin tiap orang punya mimpi. Tapi aku bingung, apa mimpiku? Saat aku bermimpi untuk sesuatu, aku berpikir tidak akan menjadi nyata. Bagaimana caranya aku bisa mewujudkan mimpi itu?

Kesempatan datang silih berganti. Menyapaku diriku yang membisu. Aku seperti penonton yang terlarut dalam drama, menonton para pemain itu terus bergerak dengan tujuan. Aku hanya membisu, dan melewati kesempatan-kesempatan. Menyisakan penyesalan.

Sebut aku bodoh. Bahkan aku masih diam dan masih menghitung peluang berapa banyak kesempatan lagi yang akan datang. Masih terus berangan bahwa aku bermimpi.

Aku lelah bermimpi. Aku lelah hanya membisu. Aku lelah menghitung. Aku lelah menunggu. Aku akan bangkit. Aku akan mewujudkan mimpi-mimpi itu. Aku hampir saja sampai. Padahal aku belum melakukan sesuatu. Sebut aku bodoh. Ternyata aku hanya bermimpi. 

Darimana aku harus memulai mewujudkannya?