Rabu, 15 Februari 2017

Hujan Kecil

Sabtu kelabu lagi. Ada apa dengan wajah murung itu? Apa karena tidak bisa pergi di Sabtu malam? Padahal lebih nyaman di dalam kamar.

Kutatap hujan dari balik jendela. Kukira hujan akan malu jika kutatap seperti ini. Tapi ternyata semakin besar. Sepertinya hujan sedang tidak bersahabat denganku. Hujan ingin aku tetap di rumah. Menatap kosong jendela yang dipenuhi tampias hujan. Menatap punggung yang sedang menunggu hujan reda di luar sana. Sesekali ia menjulurkan tangannya, merasakan dinginnya air hujan yang menggelitik. Pemilik punggung mungkin kedinginan, ia memeluk dirinya sambil menggosok telapak tangan. Rambutnya sedikit agak basah. Ah, kapan hujan akan selesai?

Beberapa anak kecil basah kuyup sambil memegang payung besar. Berlalu lalang di jalan menawarkan jasa 'ojek payung'. Seorang anak lelaki menawarkan payung besar terbaik miliknya, tapi orang itu menolak dengan halus. Ia lebih memilih menunggu di tempatnya sambil menatap hujan.

Aku bahkan tidak tahu seperti apa tatapannya, tapi mungkin rasanya senang saat ada yang menatapmu dengan tatapan yang menghangatkan. Aku masih setia dengan punggung itu. Sejak beberapa menit lalu, aku seperti hanyut dalam sebuah drama yang paling kusuka. Orang itu, ia menjulurkan tangannya lagi. Meraba hujan. Sepertinya hujan besar sudah berganti menjadi hujan kecil. Aku menatap punggung  yang mulai menjauh. Ia menyatu bersama hujan-hujan kecil. Samar aku melihat lengkung di sudut bibirnya, sepertinya menyenangkan berdansa dengan hujan.

Sejak beberapa detik lalu, aku iri dengan hujan. Aku ingin menjadi hujan kecil. Walaupun suatu saat aku harus pergi digantikan pelangi, pasti ada waktu lagi aku akan kembali.

Bekasi, 15 Februari 2017

#30DWCjilid4 hari ke - 15

Selasa, 14 Februari 2017

Kini Waktunya

Lelah...
Sampai rasanya aku ingin mencopot bahuku yang penuh amanah
Menenangkan jiwa yang terus gelisah
Membersihkan pikiran yang penuh masalah
Meluapkan segala amarah

Lelah...
Biarkan aku istirahat sejenak untuk melesat lebih jauh
Menangis sesaat untuk tersenyum lebih indah
Melupakan sedikit untuk mengingat lebih banyak
Egois sedikit untuk sabar lebih banyak

Lelah...
Tak apa walau lelah asal lillah
Tak apa tertatih asal tercapai
Tak apa menangis asal tak bersedih
Tak apa menyerah, jika masalah sudah selesai

Kini waktunya...
Memberi vitamin pada tubuh
Memberi vitamin pada ruh
Melawan rasa lelah
Menolak untuk menyerah


Dalam lelah di titik terjenuh, 14 Februari 2017

#30DWCjilid4 hari ke -14

This entry was posted in

Senin, 13 Februari 2017

Ibu Kita Kartini (Part END)

Satu dua ditambah dikurang
Semua terus diulang-ulang
Ilmu merekat di dalam jiwa
Untuk bekal saat nanti tua

Aku tak ingin cerdas sendiri
Aku tak ingin pandai sendiri
Aku tak ingin bisa sendiri
Aku tak ingin tahu sendiri

Biarkan aku mengobati mereka
Mengobati kebodohan
Mengobati kemiskinan
Aku ingin menjadi dokter pendidikan

Semua murid bertepuk tangan, aku tidak tahu apakah puisiku bagus atau tidak, aku tidak peduli. Bu Tini menatapku lama, kemudian menitikkan airmata, sepertinya hanya aku yang sadar. Aku tidak mengerti mengapa. Bu Tini lalu
menyuruhku duduk kembali.

"Puisi yang bagus, Maryam. Semoga cita-citamu itu tercapai.... Selanjutnya siapa lagi ingin membacakan puisinya?"

Pada akhirnya aku tau mengapa Bu Tini menangis kala itu. Aku sendiri sempat merasa tidak punya harapan. Aku ingin menjadi guru, menjadi seperti Bu Tini. Mengajar dengan caranya sendiri, membagi ilmu bermanfaat tanpa mengharap
dibalas lebih. Tapi semua hanya angan. Di usiaku yang terbilang muda, aku menderita katarak. Keluargaku tak punya uang untuk mengobati mataku. Jadi aku harus berteman dengan pandangan buram tiap saat, menikmati segala sesuatu tanpa jelas bentuknya.

Saat Bu Tini menulis materi pelajaran di papan, aku dibolehkan melihat dari jarak dekat. Penglihatanku memang kurang baik, maka dari itu aku lebih mengandalkan ingatanku untuk mencatat materi pelajaran. Aku ingat Bu Tini pernah bilang, "dalam belajar tidak ada keterbatasan, kita saja yang suka membatasi
belajar dengan rasa malas,". Beliau juga sering memotivasiku untuk terus belajar, mangatakan padaku, "Jadilah seperti Maryam, ia tegar dan kuat dalam kesulitan apapun, selalu meminta pertolongan Allah. Itu mengapa orangtuamu memberimu nama Maryam."

Sudah beberapa hari ini Bu Tini terlambat datang ke sekolah. Biasanya Bu Tini yang akan menyambut kami di depan sekolah. Seperti ada yang berbeda dari Bu
Tini. Pernah sekali Bu Tini pingsan di sekolah. Tak ada yang tau apa yang terjadi dengan Bu Tini. Aku pernah bertanya pada Bu Tini mengenai kondisinya. Dengan
tersenyum beliau mengatakan baik-baik saja. Aku tahu Bu Tini sedang tidak baik-baik saja. Saat sepulang sekolah, Bu Tini manggilku ke ruang guru. Biasanya orang yang diminta ke ruang guru adalah siswa bermasalah. Ternyata Bu Tini
memberiku sebuah buku. Buku yang amat tebal, mungkin kumpulan catatan materi.

"Jaga baik-baik, Maryam. Ibu percaya kamu bisa menggantikan ibu suatu saat nanti. Ajarkanlah kebaikan-kebaikan. Kelak jika muridmu nanti baik, maka
gurunya pastilah baik." Aku benar-benar bingung bagaimana aku bisa
membacanya sementara mataku seperti ini.

Esok harinya sampai jam tujuh murid-murid menunggu Bu Tini tak kunjung datang. Aku dan teman-teman memutuskan untuk mendatangi rumah Bu Tini.
Langkah kaki kami. Sebuah bendera menancap tak jauh dari rumah Bu Tini. Perasaanku makin tak karuan. Orang-orang ramai berdatangan ke rumah Bu Tini. Aku memberanikan diri masuk. Seketika tubuhku kaku. Rasanya seperti tidak
berpijak, lemas sekali.

Silau mentari membangunkanku. Pusing rasanya mencoba mengingat kejadian kemarin. "Bu, Maryam kenapa?" tanyaku pada Ibu yang setia menjagaku.

"Kemarin kamu pingsan, Alhamdulillah sekarang sudah sadar. Ibu buatkan sayur
ya?" jawab Ibu, suaranya sedikit menangkan.

"Pingsan dimana, Bu?"

Ragu-ragu Ibu menjawab. "Di rumah Bu Tini, Maryam..."

Ya, aku mengingatnya. Aku telah kehilangan guru terbaik yang pernah ada. Kehilang sosok sahabat sekaligus Ibu kedua bagiku. Kehilangan juga dirasakan teman-temanku. Beberapa hari Mahzul dan teman-teman ziarah ke makam Bu Tini. Sekolah menjadi terasa
sepi. Belajar terasa tidak lagi mengasyikkan. Semua murid merindukan Bu Tini. Sampai suatu saat Ridho menemukan sebuah surat di ruang guru. Surat berisi
pesan Bu Tini, yang membuat kami berjanji untuk mau terus belajar.

Anakku, tak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan kerasnya batu karang pun dapat dihancurkan. Kejarlah ilmu dan amalkan, bagilah dengan orang lain karena ilmu yang bermanfaat akan selamanya mengalir sampai hari akhir itu tiba. Kita boleh miskin harta, tapi jangan miskin ilmu apalagi miskin iman.
Kartini

Sehari setelah aku siuman, beberapa orang berjas putih dan pejabat daerah mendatangi rumahku. Mereka bilang aku mendapatkan bantuan operasi untuk mataku dari pemerintah. Aku pun sudah mendapat donor kornea mata dari
seseorang entahlah siapa. Saat aku bertanya mereka tidak memberitahu, aku diberi sebuah surat dan hanya boleh dibaca saat operasiku berhasil. Aku dibawa ke kota untuk menjalani operasi. Syukurlah, kini aku bisa melihat masa depan yang cerah, melihat indahnya dunia. Harus aku berterima kasih pada Tuhan dan orang baik hati yang membuatku sembuh.

Kartini, pendekar bangsa, harum namanya. Bu Tini lah yang menunjukkan padaku “habis gelap terbitlah terang” yang sebenarnya. Mengajarkanku artinya berjuang dalam pendidikan. Aku tak mungkin menderita katarak selamanya,
kemudian aku akan menjadi buta. Tapi Bu Tini hadir sebagai penerang masa depanku. Maka aku yang akan melanjutkan perjuangan Bu Tini, Kartini bagiku, Kartini bagi SD Darah Juang.


Bekasi, Mei 2016

#30DWCJilid4 hari ke 13

This entry was posted in

Minggu, 12 Februari 2017

Ibu Kita Kartini (Part 1/2)

Matahari bersembunyi malu-malu. Langit masih gelap saat anak-anak mulai berpamitan pada orangtuanya pergi ke sekolah. Aku menyalimi Ibu dan Ayah lalu menyusuri perjalanan panjang menuju sekolah bersama adikku, Musa.

Ditemani Musa, aku menyusuri jalan setapak, melewati ladang, melewati pasar, dan menyebrangi sungai kecil. Pasar adalah godaan terbesar, saat melewati pasar, aku dan Musa sering kali berhenti di tempat toko mainan, melihat mainan-mainan bagus dari luar toko. Saat matahari mulai meninggi pasar akan menjadi sangat padat, sulit sekali mencari jalan untuk sampai di ujung pasar.

Merah putih berkibar anggun di ujung bambu yang ditancapkan di tanah lapangan sekolah. Semua murid SD Darah Juang yang jumlahnya tak lebih dari lima puluh
berbaris rapih memberi hormat pada sang merah putih. Dan yang penting dari upacara hari senin adalah kalimat-kalimat sakti Bu Tini. Bu Tini adalah guru kami yang sudah hampir tiga puluh tahun mengabdi untuk SD Darah Juang. Ada tiga
guru dan satu kepala sekolah di SD Darah Juang. Dua guru lainnya adalah Pak Ram dan Bu Jei yang hanya mengajar di hari tertentu, sisanya di Kota. Bu Tini bukan PNS, puluhan kali beliau mengikuti seleksi namun tidak pernah lolos.

Aku senang dengan Bu Tini, dengan keterbatasan yang ada Bu Tini setia mengajar walaupun tak jarang digaji dengan beras, buah-buahan, atau hasil tani lainnya.

"Kita boleh miskin harta, tapi jangan miskin ilmu apalagi miskin iman."

Begitu kalimat penutup dari Bu Tini. Upacara sudah selesai. Lonceng tanda masuk berbunyi. Semua murid berebut masuk kelas. Di sekolahku, hanya ada dua ruang
kelas. Kelas satu sampai tiga digabung dalam satu ruang kelas. Pun begitu dengan kelas empat sampai enam. Dalam ruangan dibatasi dengan sekat yang membatasi masing-masing kelas. Bu Tini pertama kali akan masuk ke kelasku di lima belas menit pertama. Lalu ke kelas lima selanjutnya ke kelas empat.

Tak perlu menyebut nama untuk mengabsen karena jumlah murid di kelas enam masih dapat dihitung jari. Dengan melihat seisi kelas sekilas Bu Tini sudah tau siapa yang tidak hadir.

"Kemana Ridho?" tanya Bu Tini

"Tadi saya ketemu Ridho di pasar, Bu. Sedang membantu orangtuanya berjualan." jawab Lanang teman sebangku Ridho.

Resah tentu jika satu dari dua belas muridnya tidak masuk sekolah, apalagi kelas enam akan menjalani ujian nasional. Bu Tini adalah orang paling sibuk jika ada satu muridnya yang tidak masuk sekolah, mendatangi orang tua murid, membujuk agar anaknya dibolehkan pergi sekolah. Gurat lelah terlihat jelas di wajahnya, namun semua sirna demi melihat semangat muridnya untuk datang sekolah.

"Baik anak-anak kita mulai belajar hari ini, ya. Silahkan, kita mau belajar pelajaran apa hari ini?"

Seperti biasa Bu Tini akan menanyakan pelajaran apa
yang ingin kami pelajari, kami bebas memilih. Dengan begitu murid menjadi sedikit santai dan nyaman karna tidak melulu mengikuti peraturan harus belajar sesuai pelajaran yang telah ditentukan. Murid-murid berbisik-bisik, membuat kesepakatan pelajaran apa yang ingin dipelajari.

"Bahasa Indonesia, bu!" Jawab Mahzul, si ketua kelas. Yang lain kompak mengangguk.

"Baiklah, kalau kalian memilih pelajaran Bahasa Indonesia, hari ini kita akan belajar membuat puisi. Setelah itu kalian bacakan puisinya."

"Tentang apa, Bu, puisinya?" Tanya Siti.

"Bebas, Siti. Buatlah sebaik mungkin...."

"Bu, bagaimana cara membuat puisi?" tanya Mahzul.

"Ya, pertanyaan bagus Mahzul...." Selanjutnya Bu Tini menjelaskan bagaimana membuat puisi.

"Siapa mau membacakan puisinya terlebih dahulu?" Semua diam, nampak masih sibuk dengan puisi masing. Aku sendiri sudah menyelesaikan puisiku. Ragu-ragu aku mengangkat tangan.

"Ya, Maryam. Boleh Ibu lihat puisimu?" aku mengangguk memberikan buku tugasku kepada Bu Tini.

Hanya sebuah tulisan besar bertuliskan "Dokter Pendidikan" dalam buku. Tidak ada tulisan panjang berisi puisi. Bu Tini sama
sekali tidak marah, beliau tahu aku pasti menuliskan puisiku dalam ingatanku bukan dalam buku.

"Sekarang kamu boleh membacakan puisimu, Maryam." Aku bisa melihat walau tak jelas senyum Bu Tini menyemangatiku, membuatku mantap berdiri di depan
kelas membacakan puisi.

"Dokter Pendidikan, oleh Maryam

Satu dua ditambah dikurang
Semua terus diulang-ulang
Ilmu merekat di dalam jiwa
Untuk bekal saat nanti tua

Aku tak ingin cerdas sendiri
Aku tak ingin pandai sendiri
Aku tak ingin bisa sendiri
Aku tak ingin tahu sendiri

Biarkan aku mengobati mereka
Mengobati kebodohan
Mengobati kemiskinan
Aku ingin menjadi dokter pendidikan

Semua murid bertepuk tangan, aku tidak tahu apakah puisiku bagus atau tidak, aku tidak peduli. Bu Tini menatapku lama, kemudian menitikkan airmata, sepertinya hanya aku yang sadar. Aku tidak mengerti mengapa. Bu Tini lalu menyuruhku duduk kembali.

"Puisi yang bagus, Maryam. Semoga cita-citamu itu tercapai. Selanjutnya siapa lagi ingin membacakan puisinya?"

Pada akhirnya aku tau mengapa Bu Tini menangis kala itu.

(Bersambung)

#30DWCJilid4 Hari ke 12

This entry was posted in

Sabtu, 11 Februari 2017

Tak Usah Merindu

Di keramaian aku merasa sepi
Di terangnya malam aku merasa gelap
Di indahnya senja aku merasa muram
Di sejuknya pagi aku merasa tak bisa bernafas

Orang bilang itu rindu

Rindu....
yang terjebak oleh masa lalu
Membuat hariku sendu
Menyita waktu untuk menunggu
Tapi tak ada yang datang bertamu

Oh hati,
Bisakah kita berdamai?
Merelakan rindu yang mengotori hati

Sungguh Tuhan lebih merindu
Tuhan akan terus menunggu
Tapi tak kunjung kau bertamu
Apalagi yang kau tunggu?

Tuhan di sisimu, tak perlu kau merasa sepi
Menyendirilah dalam kemuliaan cinta hakiki
Menjaga kehormatan untuk yang sedang menanti
Lebih baik daripada kau merindu sendiri

Bekasi, 11 Februari 2017

#30DWCjilid4 hari ke 11

This entry was posted in

Jumat, 10 Februari 2017

Telepon Satu Menit

Tiap hari, tiap kali aku menatap layar ponsel
Aku hanya berharap sesuatu
Sesuatu yang seharusnya tidak bisa aku harapkan
Tapi apa salahnya berharap?
Hanya sebuah keinginan yang mungkin tidak akan menjadi kenyataan

Hingga aku lelah
Lelah berharap, dan lelah melihat kenyataan
Dering yang sangat aku ingin dengar
Nama yang sangat ingin aku lihat di layar ponselku
Mematahkan semua harapanku

Aku ingin,
Melewatkan satu menit yang selalu kuingat itu lagi
Satu menit yang merubah hidupku
Satu menit yang menghancurkan tembok pertahananku dalam sekejap

Walau aku tahu itu mustahil
Tapi biarkan aku tetap berharap
Karna dengan berharap aku yakin
Aku masih merasakannya

Bekasi, 10 Februari 2017

#30DWCJilid4 hari ke 10

This entry was posted in

Kamis, 09 Februari 2017

Kolam Susu

Samudra bergelimang berlian
Berubah menjadi empang
Lautan air susu
Berubah menjadi lautan lumpur

Tak lagi ada ikan
Tak ada penghasilan
Pergi ke laut hanya mencari sampah
Pulang ke rumah menghantar lelah

Oi, kasihan nasib nelayan
Anak tak sekolah
Istri tak makan
Tapi handuk selalu basah, dengan air mata

Berlayar hanyalah petaka
Mereka diusir dari tanah mereka sendiri
Dijajah pengembang
Para asing perut buncit yang kenyang makan uang

Reklamasi, mereka bilang untuk pembangunan
Pembangunan atau keuntungan?
Pribumi mereka bodohi
Siapa yang sebenarnya bodoh?

Ah, Lautan tak lagi kolam susu
Kolam susu kini habis terkuras
Habis oleh keserakahan
Turut berduka atas matinya nurani mereka

Bekasi, 9 Februari 2017

#30DWCjilid4 hari ke 9

This entry was posted in