Rabu, 08 Februari 2017

Purnama di Februari



Puluhan purnama berlalu 
Waktu terus melaju seperti kuda pacu
Meninggalkan memori yang termangu
Waktu tak ingin lama menunggu

Rindu..

Rindu hanya ilusi hati
Kenapa aku terus merindu walau harus tersakiti?
Tolong... rindu ini diobati
Apa aku harus merindu sampai mati?

Rindu...

Seperti Senin merindukan Minggu
Merah merindukan ungu
Laut merindukan gunung
Aku merindukan kamu

Rindu...

Sampai bulan terbelahpun rindu tetap rindu
Tapi cerita ini telah kehilangan alurnya, aku tak bisa lagi menunggu
Mari akhiri sampai di sini
Purnama di Februari...

Februari...

Tak akan lagi aku menanti
Kini rindu sudah mati
Jika kami akan bersua
Pastilah itu di syurga

Untuk yang pernah kurindu, kini kusudahi.

Bekasi, 8 Februari 2017
#30DWCjilid4 hari ke-8


Gambar: wallpaperstock.net
This entry was posted in

Selasa, 07 Februari 2017

Jalan Setapak

Kukira hidup ini 
sesederhana menutup mata
Saat kubuka kembali, hal sulit dengan mudah kulupakan
Andai hidup semudah itu
Aku pasti ingin hidup seribu tahun lahi

Kususuri garis jalan hidup ini
Perjalanan panjang melelahkan
Tapi kapan aku sampai?
Tak ada ujung untuk menjadi harapan

Di jalan setapak aku terseok-seok
Dengan peluh dan darah
Menggapai ujung yang entah ada atau tidak
Kakiku tetap berjalan, selama ia mampu

Kemana tujuan?
Aku berjalan tanpa tujuan adalah mustahil
Kemana harapan?
Aku hidup tanpa harapan seperti mati

Ternyata jalan ini panjang
Aku hanya perlu terus berjuang
Walau tujuan jauh dari mata memandang
Aku akan tetap berjalan demi yang Maha Penyayang

Bekasi, 7 Februari 2017
#30DWCJilid4 hari ke-7

This entry was posted in

Senin, 06 Februari 2017

Negeri Komedi

Selamat datang!
Di negeri dimana rakyat miskin ditertawakan
Rakyat lemah ditertawakan

Gerai tawa penguasa kesenangan mendapat pundi rupiah
Gerai tawa penguasa kesenangan dibodohi asing
Gerai tawa yang menggema di seluruh negeri

Ah, lucunya negeri ini
Saat suara klakson menjadi penghibur rakyat kecil
Derita rakyat kecil lah penghibur para penguasa
Tentu mereka tidak akan membiarkan rakyat kecil mereka bahagia

Saat laut dirusak dan sumber daya dikuras, mereka tertawa bahagia
Saat negara tak punya uang laku mereka memeras rakyat kecil, mereka tertawa bahagia

Maka ketika Tuhan merampas semua dari tangan mereka, masihkah mereka tertawa seperti itu?

Bekasi, 2016

#30DWCjilid4 hari ke-6

This entry was posted in

Minggu, 05 Februari 2017

Kemerdekaan yang Terjajah



Gambar: dokumentasi pribadi



Laut tak lagi lepas, dijajah reklamasi
Hutan tak lagi rindang
Kilau emas hanya milik asing
Derita milik pribumi

Hukum dikangkangi penguasa
Rakyat tak lagi bisa bersuara
Berani bicara,
Siap mengahadap jeruji besi

Mahasiswa bergerak
Mereka bilang atas kepentingan elit politik
Penguasa bertindak
Mereka bilang atas kepentingan rakyat

Bukan hanya tempe yang bisa dibeli
Suara rakyat kini mereka beli
Demi sebuah kursi kuasa
Hati nurani tak lagi mereka rasa

Bekasi, 5 Februari 2017
#30DWCjilid4 Hari ke-5 
This entry was posted in

Sabtu, 04 Februari 2017

Nila dan Jingga (Teman Khayalan)

Gambar: duniasehat.net


"Nila! Jangan jauh-jauh mainnya! Kalau sudah maghrib, bergegas pulang!" teriak ibu dari dalam rumah.

"Iya, bu."

Nila menghampiri keenam temannya yang sudah menunggu di luar rumah.

"Kita mau main apa?" tanya Nila.

"Main bola kaki!" teriak Ocan paling semangat.

"Ah, aku tidak suka main bola, Can." Ruri tidak setuju.

"Main masak-masak?" tanya Mimi.

"Sudahlah, laki-laki hanya bisa makan, Mi." Ruri masih tidak setuju.

"Petak umpat, semua orang bisa, kan? Main petak umpat saja, bagaimana?" Tawar Dino.

Semua tampak berpikir lalu akhirnya mengangguk setuju.
"Ayo, kita main di kebun paman Chang!"

***

"Lima... Empat... Tiga... Dua... Satu... Sudah?"

"Sudaaah!"

Nila membuka matanya, lalu mulai mencari teman-temannya. Ia berjalan mengendap-endap.

Sskkk..ssskk.. Terdengar bunyi berisik dari balik semak.

"Ocan... Pong!" teriak Nila kegirangan.

Mimi paling tidak bisa bersembunyi. Ia bersembunyi di balik gerobak, kaki dan badannya tertutup, tapi kepalamya tidak. Seharusnya ia berjongkok.

"Mimi... Pong!"

"Ruri... Pong!" Ruri ketahuan saat akan pindah tempat bersembunyi.

"Ayo, Nila, cari Dino! Dia pasti sulit ditemukan."

Dino, dengan badannya yang kurus kecil dia bisa bersembunyi dimana saja. Dino yang bersembunyi di atas pohon hampir saja jatuh. Sayang, sendalnya yang benar-benar jatuh.

"Dinoooo! Pong!"

"Yeaaay Dino kena!" Sorak teman-teman Nila.

"Ah, satu lagi." Nila merasa masih ada lagi temannya yang belum ditemukan. Di sekitar kebun paman Chang ia tidak ada. Lalu dimana?

"Nila mau kemana? Ini sudah hampir maghrib, ayo pulang!" ajak teman-teman Nila.

"Aku masih belum sapat satu lagi!"
Teman-temannya saling memandang bingung.

"Jingga, kamu dimana? Ayo keluar, aku lelah!" Entah berapa jauh dari kebun paman Chang Nila mencari. Bahkan sampai ke sungai.

Nila melihat sekelebat bayangan di balik pohon. Ia yakin itu Jingga.

"Nila!"

Nila mencari pemilik suara. Benar, itu Jingga. Jingga yang melayang, menari-nari di atas tanah.

"Jingga.... "



#30DWCjilid4 hari ke-4

Jumat, 03 Februari 2017

Benang Merah


Gambar: tahupedia.com

Ini akan menjadi benang merah hidupku
Alasan kenapa aku memilih jalan ini
Tak usah menanggapi, karna aku tak butuh
Karna aku yang menjalani

Kamis, 02 Februari 2017

Hitam - Putih


Gambar: pixabay.com



Kehidupan ini seperti koin, memiliki dua sisi. Angka dan gambar. Dunia dan akhirat. Baik dan buruk. Hitam dan putih.

Bagiku di kehidupan ini hanya ada dua jenis manusia; orang yang melakukan kebaikan, dan orang yang melawan kebaikan. Kegelapan itu hadir karena hilangnya cahaya terang. Lalu kita ini termasuk yang mana?