Sabtu, 23 Juli 2016

Public Relation

PKM UNJ 2 hari pertama yang dilaksanakan pada hari rabu, 14 Juli 2016, di gedung FMIPA ruang 1.6-1.7 berlangsung dari pukul 08, pertama adalah penyampaian materi. Materi yang dibahas kali ini adalah tentang "Public Relation" yang narasumbernya adalah oleh Bapak Yusro selaku mantan Kadept. Sospol BEM UNJ dan salah satu founder dari KPM UNJ, yang di moderatori oleh kak Hafizh (Matematika 2013). Berikut beberapa poin dari materi yang disampaikan:

Public Relation (Relasi Publik) merupakan aktivitas untuk mengelola komunikasi antar organisasi dan publiknya dengan cara memikirkan, merencanakan dan mencurahkan daya untuk membangun dan menjaga saling pengertian antara organisasi dan publiknya.
Beberapa tujuan dari PR antara lain: memberikan penerangan kepada masyarakat, melakukan persuasi untuk mengubah sikap dan perbuatan masyarakat secara langsung, dan berupaya untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu badan/lembaga sesuai dengan sikap dan perbuatan masyarakat atau sebaliknya
PR dalam organisasi. Syaratnya: Kemampuan untuk berkomunikasi, mengatur, berbaur, berkepribadian integritas, dan berimajinasi.
Esensi PR antara lain: memperoleh good will kepercayaan saling pengertian, menciptakan opini publik yang favourable menguntungkan semua pihak, dan untuk menciptakan hubungan yang harmonis.

Setelah materi selesai, acara dilanjutkan dengan arahan oleh kak Icha mengenai tugas peserta selanjutnya, yaitu selama kurang lebih 40 menit, kami diharuskan mempersiapkan penampilan sosio-drama yang masing-masing kelompok yang berjumlah empat mendapatkan masing-masing satu tema. Keempat temanya antara lain: Isu Reklamasi Teluk Jakarta, Bom Sarinah, Vaksin Palsu, dan Tax Amnesty. Kelompok pertama yang maju mementaskan drama yang mereka ciptakan sedemikian rupa sehingga selain mendapatkan kejenakaannya, kami juga bisa memahami isu tersebut. Setelah sosio drama adalah presentasi penugasan dari tiap kelompok.

PKM UNJ 2 hari kedua, masih ditempat yang sama. Acara dimulai sekitar pukul 08 agendanya adalah masih presentasi kelompok lanjutan hari kemarin. Setelahnya yakni persiapan untuk PKM UNJ 3.

Ada apa di PKM UNJ ? Nantikan ceritanya!

Senin, 04 Juli 2016

Ketika Ramadhan Akan Pergi

Ketika Ramadhan akan pergi
Namun rindu belum terobati
Menyisakan banyak harapan 
Berharap masih ada kesempatan

Ketika Ramadhan akan pergi
Tangis sesal itu kembali
Waktu terbuang tanpa amalan
Dosa melimpah tanpa ampunan

Ketika Ramadhan akan pergi
Baru tersadar akan maksiat
Teringat pada Sang Pemberi Rahmat
Lalu terburu untuk taubat

Kawan, Ramadhan akan pergi…
Entah kapan akan kembali
Kawan, terus kejar amalanmu…
Bagaimana kalau ini Ramadhan terakhirmu?

...


Bismillah...
Sudah 29 hari terlewati sudah kita berpuasa. Menahan lapar dan haus. Menahan hawa nafsu. Tidak terasa, kawan. Satu malam lagi kita bertemu hari itu. Hari kemenangan. 

Apa saja yang sudah kamu persiapkan, kawan? Lusinan topless berisi kue? Baju baru? Ketupat dan opor?

Ah, tanpa itu semua kita masih bisa mendapat hikmah, kawan. Kita hanya perlu mempersipkan niat. Ya, niat untuk istiqomah dengan ibadah yang meningkat semenjak Ramadhan.

Sedih, terasa cepat Ramadhan akan pergi. Tapi kawan seharusnya ibadah itu juga tidak ikut pergi bersamanya. Sebenarnya bukan Ramadhan yang kita sembah tapi Allah. 29 hari kemarin kita beribadah bukan karna Ramadhan tetapi untuk Allah. Mungkin hal ini pernah terjadi pula di diri saya dan juga kawan-kawan, saat Ramadhan pergi, pergi pula semangat ibadah itu. Naudzubillah... Semoga Allah senantiasa menjaga hati-hati kita untuk tetap istiqomah. Aamiin

Kita tidak tahu sampai kapan Allah meminjamkan ruh pada raga ini. 
Kita tidak tahu apakah tahun depan masih bisa kita berjumpa dengan Ramadhan.
Kita tidak tahu apakah Ramadhan tahun ini adalah Ramadham terakhir kita.
Wallahualam...

Kita hanya bisa memohon pada Allah untuk dipertemukan lagi dengan Ramadhan-ramadhan berikutnya dan memaksimalkan ibadah di satu malam terakhir yang tersisa kini...



Senin, 20 Juni 2016

Menjadi Pemuda yang Dirindukan Bangsa

[REPORT PKM UNJ 1]
17-19 Juni 2016

"Menjadi Pemuda yang Dirindukan Bangsa"



HARI KE-1


Bertempat di kampus E UNJ PGSD, Setiabudi, peserta memasuki aula yang terletak dilantai 3. Acara dimulai pukul 13.30 WIB, dibuka dengan menyanyikan lagu indonesia raya dan totalitas perjuangan. 

Materi yang akan dibahas kali ini adala "Manajemen Isu dan Opini Publik" dinarasumberi oleh Bpk. Muhammad Tri Andika selaku mantan ketua BEM UI, yang di moderatori oleh kak Robi Robani. 

Beliau mengatakan dengan menjadi aktivis ada konektivitas yang kuat antara kehidupan dikampus dengan realita yg ada. Saat ini orang orang melihat bahwa perspektif "gerakan" mahasiswa tidaklah segencar dulu. 

Menurut Locke Law, "hukum yang dipercaya oleh publik adalah opini"
Opini menjadi patokan masyarakat untuk menilai benar atau salah, dimana saat ini persepsi lebih penting dibandingkan hukum itu sendiri. 
Opini/ persepsi menjadi faktor strategis untuk mencapai suatu kepentingan, bahwasanya dalam era ini persepsi lebih penting dari fakta. 

Apa yg membedakan Publik dengan Massa?

Publik adalah sekumpulan orang yang well inform, well educated, sudah terstruktur dan cendrung lebih solid. Sedangkan Massa adalah sekumpulan orang yang belum tercerahkan, kurang berpendidikan, tidak terstruktur, dan mudah dipecah belah. 
Opini "publik", "publik" menjadi alat legitimasi sebagai kata pembenar dalam suatu pernyataan.
Fakta bisa menjadi dasar opini, tetapi opini belum tentu berdasarkan fakta
Ada beberapa element dari opini publik, diantaranya:
- terdapat isu
- publik dan isu
- pembelahan posisi publik (pro/kontra)
- muncul opini
- pelibatan aktor publik. 

Isu -> kepedulian sosial/ respin masyarakat -> kelompok yang berkepentingan -> terlahirnya kebijakan.
  • Spiral of silence
Spiral of silence adalah opini yang mendorong untuk memunculkan (persepsi) kelompok yang merasa sebagai minoritas sehingga mereka memilih untuk menyembunyikan pandangan/ pendapatnya. 
  • Media
Kekuatan media adalah untuk mengembangkan/ membangun propaganda yang membentuk opini/ persepsi publik. 
  • Hiperrealitas= pembauran
Tujuannya agar publik tudak bisa membedakan mana yang realita mana yang rekayasa. Sehingga mnimbulkan keadaan dimana rekayasa dianggap fakta, fantasi dianggap realita, masa lalu sama dengan masa kini. 

Hiperrealitas media menciptakan suatu kondisi sedemikian rupa sehingga keadaannya semakin remang remang, sehingga kepalsuan informasi dianggap sebagai kenyataan, isu isu yang beredar lebih dipercaya dari kebenaran faktual. 


Penggunaan hiperrealitas untuk tujuan yang salah akan menyebabkan dampak, diantaranya:
- inflasi informasi, banyaknya informasi dan mudahnya sekarang mendapatkan informasi menyebabkan lahirnya generasi instan. 
- disInformasi, banyaknya informasi yg tersaji membuat kita menjadi bingung untuk mengkonsumsi informasi yang mana.
- depolitisasi
- junk informasi
- hipermoralitas, hilangnya batas batas moral dalam menyajikan informasi. 

Setelah materi selanjutnya istirahat sholat ashar, setelah itu semua peserta di kumpulkan dilapangan sd PGSD UNJ untuk kumpul kelompok perdana, perkenalan, pembagian jobdesc, dan pemilihan ketua kelompok. Hingga akhirnya peserta dibubarkan kurang lebih pada pukul 16.30.




HARI KE-2

Hujan deras dari malam hingga pagi hari ternyata tidak menyurutkan semangat para calon pemimpin untuk tetap hadir dalam rangkaian PKM UNJ 1. Hari kedua PKM UNJ 1 bertempat di aula Daksinapati gd.FIP, walaupun sempat ada sedikit masalah hingga waktu acara diundur tetapi acara berjalan dengan baik. Kali ini materi yang dimulai pukul 10.16 WIB membahas "Rekayasa Sosial" menghadirkan pak Jonru Ginting yang cukup fenomenal di dunia maya.

Rekayasa Sosial tanpa kita sadari ada disekitar kita. Salah satu cara mencegah adanya rekaya sosial tersebut adalah dengan kita menjadi 'Agen Perubahan'. Untuk menjadi Agen of Change kita harus mempunyai:
- Power
- Leadership 
- Mentality
- Morality
  • Power
Power atau kekuatan mencakup kekuatan dalam jabatan, uang, ilmu, pemikiran, keahlian, informasi, karya, inovasi, teknologi, prestasi, pengabdian, dan kharisma.
  • Leadership
Leadership atau kepemimpinan dapat merupakan bakat alamiah, dipelajari, dilatih, dan pengalaman
  • Mentality
Mental lebih penting dari keahlian. Kita harus siapkan mental dahulu. Mental mencakup percaya diri, pantang menyerah, disiplin, konsistensi, semangat, karakter dan akhlak.
  • Morality
Seorang agen perubahan juga harus mempunya moralitas.

Rekayasa sosial ibarat perang, untuk perang dibutuhkan senjata berupa power, leadership, mentality, reality. Tanpa keempat poin tersebut tidak bisa melakukan perubahan.

Setelah pemaparan materi ada sesi tanya jawab. Banyak yang bertanya, terlihat jelas para calon pemimpin kritis. Adzan Zuhur mengakhiri agenda pada hari itu. Tak lupa panitia mengingat bahwa masih ada satu lagi rangkaian PKM UNJ 1.




HARI KE-3

Rangkaian PKM UNJ Hari ke-3 ini dihadiri sedikit lebih banyak peserta. Bertempat di ruang 1.6-1.7 gd.FMIPA kampus B, pemaparan materi di mulai sekitar pukul 10.20 WIB. Materi tentang Counter Intelligence dipaparkan dengan amat interaktif oleh pak Mosses Caesar Asas, S.Pd, M.Sc.

Counter Intelligence adalah pencegahan agar pihak musuh tidak mendapatkan informasi yang dapat membahayakan keamanan melalui penerapan siasat yang menggunakan metode yang bertentangan (kontra) dengan pihak musuh. Jika intel diabaikan, maka teknologi tak ada gunanya. Mengapa informasi begitu penting? Karena untuk mengambil keputusan sangat bergantung pada informasi yang dimiliki.

Mekanisme melakukan Counter Intelligence:
Sinyal -> data -> informasi -> pengetahuan
dengan memahami ancaman dapat melakukan Counter Intelligence.

Seiring pertumbuhan manusia yang meningkat drastis sekitar 1 miliar setiap tahunnya, diprediksi akan sampai pada suatu masa dimana energi positif berupa energi hayati di negara-negara utara. Negara yang energi hayatinya habis akan mencari energi di wilayah ekuator (Indonesia, afrika bagian selatan, amerika bagian selatan) dan memungkinkan terjadinya konflik. Konflik yang terjadi karena latar belakang energi. Maka bela negara adalah salah satu strategi Counter Intelligence dan strategi tersebut unpredictable. 

Maka kita sebagai pemuda bangsa harus bisa membela negara kita. Bela negara termasuk dalam: 
  • cinta tanah air, tanpa cinta tanah air akan sulit untuk bela negara
  • disiplin dan tanggung jawab
  • kritis, dll
Lagi, adzan zuhur berkumandang mengakhiri rangkaian terakhir PKM UNJ 1. Ketiga rangkaian PKM UNJ 1 tersebut membuat saya sadar, membuat saya tergerak. 
Negeri ini.... merindukan pemudi-pemuda tangguh bermental baja.

Sabtu, 30 April 2016

How to be a Good Speaker

Komunikasi adalah hal yang hampir tiap saat kita lakukan. Dalam aktivitas kita dengan orang lain sangat diperlukan yang namanya komunikasi. Jika kita tidak berkomunikasi dengan orang lain rasanya seperti kita tidak bersosialisasi dengan orang lain. Dalam komunikasi yang biasa kita lakukan adalah berbicara. Berbicara menjadi hal yang memudahkan komunikasi. Lalu bagaimana cara untuk menjadi pembicara yang baik?

Ya, terkadang kita malu atau merasa tidak percaya diri saat sedang berbicara dengan orang lain. Berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk menjadi pembicara yang baik:

1. Make eye contact
Buat kontak mata dengan lawan bicaramu. Dengan begitu ia akan merasa diperhatikan dan tidak diabaikan.

2. Speak Clearly
Berbicaralah yang jelas. Jangan sampai lawan bicara kamu malas mendengarkan kamu berbicara karna bicaramu yang tidak jelas.

3. Be Interesting
Walaupun kamu nggak begitu tertarik dengan topik pembicaraan, usahakan kamu menghargai lawan bicara kamu. Kamu juga bisa membelokkan topik pembicaraan yang lebih menarik bagi kamu dan lawan bicara kamu.

4. Don't use one tone the entire speech
Tentu akan sedikit membosankan saat kamu berbicara banyak sekali namun dengan nada yang sama dan datar. Atur intonasi suara kamu dalam bicara akan membuat orang tertarik dengan pembicaraanmu .

5. Use Your Hands
Gunakan tanganmu dalam berbicara sebagai bahasa tubuh. Bahasa tubuh juga akan membuat lawan bicaramu tertarik. Bahasa tubuh juga bisa sebagai bentuk ekspresimu saat berbicara.

6. Speak Up
Ini yang paling penting. Kalau kamu tidak mau berbicara bagaimana kamu bisa menjadi pembicara yang baik.

Nah, tips-tips di atas bisa kamu implementasikan saat berbicara dengan lawan bicara atau di depan banyak audiens. Yang terpenting adalah kamu mau mencoba. Jangan takut mencoba dan latihan terus, ya!

This entry was posted in

Minggu, 17 April 2016

Surat Terbuka: Jakarta ku Sayang, Jakarta ku Malang

Jakarta ku sayang...
Jakarta yang katanya kota metropolitan. Jakarta, ibu kota yang kerasnya lebih keras dari ibu tiri. Jakarta pusat pemerintahan. Jakarta seperti rumah, semua suku berkumpul menjadi satu. Jakarta tempat orang-orang mengadu nasib.

Orang melihat Jakarta adalah kota yang hebat. Kelap-kelip malam ibu kota terlihat mengagumkan. Orang menganggap siapapun datang Jakarta ia akan berhasil. Tapi lihat di sudut ibu kota, jangan lihat yang nampak saja! Warga terlantar tak punya tempat tinggal. Warga sakit tak punya biaya berobat. Anak jalanan tak mampu bersekolah karena mahalnya pendidikan. Bahkan tak malu mengemis demi sesuap nasi dan gengsi dengan saudara di kampung. Lalu seperti apakah Jakarta itu?

Jakarta ku malang...
Seperti daerah lain, kota-kota yang memiliki gunung. Jakarta juga memiliki gunung, gunungan sampah menjulang tinggi! Penyebab banjir tahunan. Kala musim hujan tiba warga harus siap siaga. Mengganggu aktifitas, merugikan, bahkan memakan korban. Macetnya ibu kota seperti ciri khas. Perjalanan dekat rasanya seperti perjalanan jauh. Membuat banyak orang frustasi. Kebutuhan gaya hidup yang tinggi di Jakarta berdampak pada kriminalitas meningkat. Pencurian, perampokan, pembegalan, pembunuhan, pemerkosaan, dan lainnya. Kriminalitas di sekeliling, seolah Jakarta terasa tak aman.

'The city that never sleep' adalah julukan untuk Jakarta. Dua puluh empat jam dalam sehari ibu kota beraktifitas. Kota yang sibuk. Apakah pemerintahnya juga sesibuk ini nemikirkan Jakarta? Kemanakah pemerintah?

Jakarta ku ingin hidup bersih, taman hijau menghiasi kota, udara segar di sekeliling kota, tak ada lagi banjir. Jakarta ku ingin sejahtera, semua warga berpendidikan dan sehat, tak ada lagi pengemis cilik di jalan. Jakarta ku ingin aman, tak ada kriminalitas, semua warga merasa aman di ibu kota. Jakarta ku ingin tentram, jalanan lancar tanpa macet, memudahkan akses warganya, fasilitas umum bertambah baik. Jakarta ku tak ingin di abaikan, pemerintah lihatlah Jakarta, apakah sulit membuat Jakarta bersih, aman, tentram, sejahtera?

Pemerintah tidak akan sendiri, bersama warga mari ciptakan Jakarta yang madani. Cinta untuk Jakarta, kota beribu cinta warganya.


Salam cinta untuk Jakarta,

Warga Jakarta

Senin, 11 April 2016

Calon Pendidik Wajib Baca



Gambar: www.wingclips.com


Sekitar dua hari yang lalu, tepatnya hari Sabtu tanggal 9 April 2016, saya mengikuti sebuah agenda yang masih rangkaian acara TER (Training For Education Reformers) yang diadakan oleh Eduwa UNJ. Agenda hari itu adalah Edu watch dan bedah buku. Nonton film bareng bertema pendidikan. 

Hmm... saya penasaran film apa yang akan ditayangkan oleh panitia nanti...
Beberapa peserta sudah berkumpul di ruangan. Menahan gejolak penasaran dengan apa yang akan ditayangkan. 

Freedom Writers. Itu judul film yang akan ditayangkan. Mendengar judulnya, saya kira filmnya tentang kiat-kiat menjadi penulis hebat atau semacamnya yang berhubungan dengan kepenulisan (maklum kebawa hobi hehe..) tapi ternyata..... wow! Kalau kamu penasaran, bisa minta filenya sama kakak panitia^^


Film Freedom Writers diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang guru untuk membangkitkan semangat belajar para muridnya. Sebut saja guru ini Bu Erin. Bu Erin adalah guru baru di Woodrow Wilson High School, wilayah Amerika Serikat. Masih guru baru, tapi ditempatkan di kelas 'khusus' yang menampung anak-anak korban perkelahian antargeng gitu (kalau di Indonesia, semacam pelajar yang suka tawuran gitu kali ya), karena banyak guru yang tidak tahan dengan kelakuan kedua kubu ini. Di dalam kelas, kedua kubu tersebut duduk sesuai kubunya. Tidak ada anggota suatu kubu yang bergabung dengan kubu lainnya. Padahal mereka satu kelas, tapi suasananya.... ibarat 'senggol dikit bacok'.

Sebagai pendidik, Bu Erin harus cari cara untuk menghadapi murid-muridnya ini. Bu Erin meminta seluruh muridnya untuk menulis apapun yang mereka suka, bebas, di sebuah buku harian. Buku harian ini tiap harinya akan dikembalikan lagi pada Bu Erin. Ternyata cara ini berhasil! Dari tulisan-tulisan muridnya, Bu Erin akhirnya paham dengan apa yang harus ia lakukan. Ia harus menyadarkan mereka bahwa perkelahian bukan segalanya. Bu Erin juga mengajar dengan cara yang unik, mencoba menyadarkan mereka bahwan pendidikan akan membawa kehidupan mereka ke arah lebih baik. Sampai akhirnya mereka, murid-murid bu Erin, menjadi orang pertama di keluarga mereka yang mampu melanjutkan pendidikan.

Nah, selain nonton film bareng, ada sesi 2, nih! Bedah Buku! Bedah buku yang juga bertemakan pendidikan. Kelompok saya berkesempatan membedah buku berjudul Totto-Chan. Tau kan si gadis asal Jepang ini? Awalnya saya kira buku ini seperti novel-novel romansa lainnya, ternyata isinya..  wow! Penasaran? Baca aja^^

Totto-Chan nama aslinya Tetsuko Kuroyanagi merupakan penulis aslinya yang menceritakan pengalamannya dalam buku ini. Totto-Chan adalah gadis kecil yang sangat ceria dan penuh semangat untuk sekolah. Tapi sayangnya ia di keluarkan dari sekolah. Guru-guru tak sanggup lagi menghadapi Totto-Chan. Sikap Totto-Chan dianggap aneh, mulai dari sering membuka-tutup meja dengan suara yang mengganggu sampai berdiri di dekat jendela untuk menunggu pemusik jalanan yang lewat kemudian memanggil dan meminta mereka untuk memainkan lagu. Totto-Chan tidak tahu bahwa ia dikeluarkan. Ibunya tidak ingin ia merasa tertekan.

Tomoe Gakuen merupakan tempat yang menyenangkan bagi Totto-Chan. Juga Kepala sekolahnya yang menyenangkan. Belum pernah ada orang dewasa mau berlama-lama mendengar celoteh anak kecil, dan Kepala Sekolah mendengarkan Totto-Chan bercerita berjam-jam! Di Tomoe Gakuen para murid bebas memilih urutan pelajaran yang di sukai. 

Terkadang belajar tidak hanya diruang kelas, tapi juga di gerbong kereta yang disulap menjadi kelas. Di Tomoe Gakoen, Totto-Chan banyak belajar tentang persahabatan, saling menghormati dan menghargai.

Berkaca pada pendidikan di Indonesia. Banyak siswa-siswa yang suka tawuran antar sekolah, sering kali karena masalah sepele. Ada pula siswa yang berbeda dengan siswa lainnya. Mungkin ada beberapa guru merasa malu dengan kelakuan mereka, lelah, geram, hingga akhirnya menciptakan label 'anak nakal' dan semacamnya pada mereka. Menurut teori labeling, label yang diberikan pada mereka akan menempel pada mereka. Seharusnya sebagai pendidik, bukan hanya sekedar mengajar, kita harus mampu mendidik mereka. Bukan mendidik dengan menyalurkan ilmu saja, mendidik akhlak dan perilaku juga. Kita juga harus memahami dunia mereka, bukan memaksa mereka memahami dunia kita. Murid adalah amanah guru. Orangtua mereka menitipkan anaknya di sekolah untuk dididik dengan benar. Tapi masih banyak guru yang belum memahami ini. Semoga saja pendidikan di negeri ini bisa lebih baik. Mampu memanusiakan manusia dengan pendidikan.

Agar lebih dapat feelnya, kamu bisa nonton film Freedom Writers dan baca buku Totto-Chan. Di jamin seru! Terima kasih juga untuk panitia yang telah mempertemukan saya dengan Freedom Writers dan Totto-Chan

Sangat-sangat menginspirasi sekali^^

Hidup Pendidikan Indonesia!

Minggu, 10 April 2016

Aku dan Si Hijau

Mahasiswa, namanya seperti Mahameru. Puncak gunung tertinggi di Jawa yang amat mempesona. Mahasiswa, tingkat tertinggi pelajar. Jaket almamater adalah ruh seorang mahasiswa. Kelak almamater itu pun akan meminta pertanggungjawaban.

Apakah selama ini ia hanya tersimpan rapih dibalut aroma pewangi di dalam lemari? Atau beraroma keringat perjuangan?

Dialah sahabatku. Yang menemani hari-hariku di jalan juang ini. Si Hijau yang mempesona. Tak peduli kalah brand dengan Si Kuning, Si Biru, ataupun Si Kargon. Si Hijau tetap sahabatku. Yang selalu ingin kutunjukkan pada orangtuaku, aku sedang mengemban amanah dari mereka. Di sanalah aku mengingat rakyat yang haknya harus kuperjuangkan. Dari rakyat aku bisa menduduki bangku kuliah. Dari rakyat aku bisa bernafas disini. Maka untuk rakyat ia kupergunakan. Ada amanah rakyat dalam ruh Si Hijau.

Walaupun akan banyak hal menghalangi, banyak yang menentang dan tidak menyukai. Tidak akan menyurutkan semangat juang yang kutoreh pada Si Hijau. Aku akan bertanya pada diriku, sudah kah aku bermanfaat? Sudah kan aku amanah?

Pernah sekali aku kehilangan dia. Panik tentu saja. Aku tidak memikirkan soal harga membeli Si Hijau yang baru.Tapi yang kupikirkan seolah aku harus mengulang semua perjuangan dari nol. Ah, untungnya Allah masih menjodohkan aku dengannya. Si Hijau ditemukan dengan baik oleh seseorang. Hal itu tak akan terjadi lagi. Aku akan takut jika ia hilang, aku tak lagi bisa membawanya diam-diam tanpa ketahuan ibu saat aku ingin pergi aksi. Saat-saat menegangkan yang aku alami dengan Si Hijau. Si Hijau yang kancing emasnya masih kurawat baik dan utuh.

Petualanganku dan ia pun sudah amat jauh. Aku sering membawanya ke luar kota. Membawanya ke daratan nan tinggi. Membawanya bertemu orang-orang hebat. Membawanya saat aku menuntut ilmu. Membawanya berjuang di jalan.

Si Hijau, padanya aku berhutang budi. Ia yang melindungiku di kala dingin menusuk tulang. Melindungiku dari terpaan angin. Melindungiku dari rinai hujan. Melindungiku dari teriknya mentari. Melindungiku dari debu jalanan.

Aku tidak hanya ingin menciptakan momen biasa dengannya. Aku, mahasiswa yang hanya berusaha melakukan apa yang harus kulakukan. Tidak ingin hanya duduk dalam ruangan ber-AC lalu pulang kerumah, memikirkan nilai dan IP sepanjang hari. Aku ingin mematahkan anggapan orang awam bahwa pergerakan mahasiswa kini diam. Melawan mereka orang berdasi yang tidak benar dengan kuasanya. Menegakkan keadilan bagi rakyat. Aku hanya berusaha. Tidak salah bukan? Kuserahkan pada Allah bagaimana hasilnya. Aku memang bukan orang berpengaruh di dunia. Aku bukan siapa-siapa. Aku tak punya harta karun atau jabatan. Tetapi bersama Si Hjau aku adalah Mahasiwa. Berusaha menjalankan empat fungsi mahasiswa dan tridharma perguruan tinggi.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indinesia!