Rabu, 07 Desember 2016

Merindu Sendiri

Gambar: gungbaskoro.wordpress.com



Aku merindukannya seperti kemarau merindukan hujan
Aku tanpa dia seperti malam tanpa bulan
Jangan tanya mengapa air laut asin karena aku tidak tahu apakah dia takdirku

Tenang saja,
Aku akan mundur perlahan
Menjaga jarak mungkin lebih baik
Meski harus merindu dalam kesunyian

Maka biarkanlah aku pergi bersama waktu
Kisah telah kehilangan alurnya
Tokoh utama tak lagi kuasa menanti
Biarkan aku pergi bersama waktu,
dan merindu sendiri...


#30DWC HARI KE-7

Selasa, 06 Desember 2016

Rindu Bersama Senin

Kutanya Selasa...
Bolehkah kutitip rindu untuk Minggu?
Selasa bilang tak sanggup

Kutanya Rabu...
Bolehkah kutitip rindu untuk Minggu?
Rabu pun tak sanggup

Kutanya Kamis...
Bolehkah kutitip rindu untuk Minggu?
Tapi Kamis hanya diam

Kutanya Jum'at...
Bolehkah kutitip rindu untuk minggu?
Jum'at bilang ia sedang sibuk

Lalu kutanya Sabtu...
Sabtu, bolehkah kutitip rindu pada Minggu?
Sabtu menjawab,

Hay Senin, kau hanya menunggu esok untuk bertemu Minggu
Walaupun harus menunggu lima hari
Karena berjuang tidak ada yang mudah
Kalau ada itu artinya kau sudah menyerah



#30DWC Hari ke-5

Minggu, 04 Desember 2016

Dibalik 212


Pagi saya terbangun saat langit mulai cerah, bergegas mandi lalu sholat subuh. Setelahnya saya merasa ada yang aneh. Saya cari. Benar saja, adik laki-laki saya tidak ada dirumah pagi ini. Saya tanya mama saya, ternyata adik saya sudah pergi ke Monas sejak subuh. Sepanjang pagi berita di tv menyiarkan siaran langsung Aksi Super Damai 212. Walau tidak dibolehkan untuk pergi ikut Aksi, saya tetap memakai dresscode putih. Walaupun tidak bisa ikut bertakbir bersama ribuan umat islam lainnya, diam-diam saya takbir dalam hati.

Sepanjang perjalanan saya ke kampus, selalu saya temui rombongan orang-orang berpakaian putih dalam bis atau konvoi motor. Melihatnya seperti jamaah haji. Mulai dari jalan tol hingga jalan raya banyak sekali orang berpakaian putih. Di transjakarta saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu. Iya berkomentar melihat banyak orang-orang berpakaian putih tersebar di jalan dan tentang aksi yang  nantinya hanya membuat rusuh. Saya hanya tersenyum, memberi sedikit pengertian tapi tidak memaksa. Ibu itu hanya mangut-mangut dan tersenyum kecil.

Konvoi motor melewati bis. Dan saat itu hati saya bergetar. Gema takbir dan sholawatan mengaung di sepanjang jalan. Ramainya ibu kota tidak mengalahkan suara takbir dan sholawat itu. Bahkan mereka iring-iringan dengan tertib tanpa ugal-ugalan. Lalu dimana letak rusuh nya? Tanya saya dalam hati. Ini betul namanya 'super damai'.

Sampai waktu siang dan aksi bubar saya hanya mendapat kabarnya dari berita online atau pun teman saya yang ikut aksi. Aksi sangat damai dan lancar. Ah, menyesal rasanya. Tapi saya terenyuh hari itu. Aksi hari itu benar-benar damai. Dan membungkam mulut-mulut mereka yang suka berbicara seenaknya tentang aksi bela islam. Andai saja mereka tahu sebesar apa pertolongan Allah kepada manusia yang menolong agama-Nya.

Sabtu, 03 Desember 2016

Perempuan

Aku dan takdirku..
Mencuri sebilah tulang rusuk
Menunggu untuk mengembalikan

Aku dan takdirku..
Surga di telapak kaki ku
Menjadi seorang yang menghargai dan dihargai

Aku dan takdirku..
Dari rahimku lahir khalifah baru
Pembangun peradaban yang baru

Aku dan takdirku..
Berjuang menjaga kehormatanku
Menjaga agamau, menjaga mahkotaku


Bekasi, 24 Oktober 2016

Jumat, 02 Desember 2016

Tidak Usah Menyesali Penyesalan

Penyesalan selalu datang terakhir. Dari seluruh manusia di muka bumi kamu salah satunya pasti pernah merasakan penyesalan yang suka datang terlambat itu.

Andai saja kamu bisa menghukum penyesalan yang jdatang terlambat seperti kamu dihukum saat terlambat datang di upacara hari senin. Hmm, apakah itu menyelesaikan masalah?

Tapi kawan, kalau penyesalan itu datang 'on time', bagaimana hidup ini? Tentu menyenangkan. Tidak pernah kita melakukan kesalahan karna penyesalan datang di waktu yang tepat untuk mengingatkan.

Dan dengan itu, kita tidak akan tau bagaimana rasanya menyesal. Maka dengan itu pula kita tidak akan tau pula rasanya belajar dari kesalahan.

Dari segala apapun yang suka terlambat, biarlah yang satu ini. Biarlah penyesalan sesuai kodratnya untuk datang terlambat dan menjadi pelajaran tersendiri bagi kita. Tidak usah menyesali penyesalan yang suka datang terlambat.

Mungkin diri kita lah yang seharusnya 'on time' sebelum penyesalan itu datang.

#30DWC Hari ke-2

Kamis, 01 Desember 2016

Diam





Diam..
Mungkin kau kira aku bisu
Tidak, aku hanya memenjarakan lisan ku
Jika ia bebas, ia bisa menyakiti hati

Diam..

Mungkin kau kira aku tuli
Tidak, aku hanya memenjarakan pendengaran ku
Aku takut ia mendengar yang tidak harus ku dengar

Diam..

Mungkin kau kira aku buta
Tidak, aku hanya memenjarakan penglihatan ku
Biarkan aku melihat dengan hati
Biarkan aku diam

Tapi tidak kubiarkan imanku diam



Bekasi, 7 November 2016



#30DWC hari ke-1
This entry was posted in

Minggu, 23 Oktober 2016

Kanvas Muram




Aku menanti seperti kanvas polos

Menunggu dilukis dengan goresan cinta

Lalu kau datang menggenggam kuas, menatapku

Hatiku nelonjak senang

Ku kira itu kamu, takdirku

Tapi kau hanya lewat saja

Tanpa menggores sedikit tinta

Kini aku harus menunggu seribu tahun lagi

Menanti pemilik tulang rusuk yang kucuri

Aku menanti seperti kanvas yang muram



Bekasi, 24 Oktober 2016
This entry was posted in