Kamis, 29 Desember 2016

Satu Detik

Memendam ternyata seperti ini rasanya
Aku hanya bisa diam
Tanpa mampu menyapa
Aku hanya bisa menatapnya
Tak bisa mengatakan 'Hai, apa kabar?' atau 'Selamat sore'

Ada 12 bulan dalam 1 tahun
Ada 30 hari dalam 1 bulan
Ada 24 jam dalam 1 hari
Tapi kita hanya bisa saling menyapa dalam kegamangan selama satu detik dalam satu tahun

Satu detik yang hingga detik ini selalu kuingat ekspresimu
Satu detik di penghujung tahun
Satu detik yang berhasil memporakporandakan hati

Kau yang menatapku kebingungan
Tak apalah dengan ekspresimu
Aku tak mengharap banyak
Semoga ketika tahun sudah berganti kamu masih ingat rupaku

Meine sonne

Rawamangun, 30 Desember 2016

#30DWC Hari ke 30

Sepenggal Kisah Persahabatan

Persahabatan yang dimulai dari masa kecil atau masa sekolah mungkin akan lebih kokoh karna lamanya waktu bersama. Tapi apa yang terjadi padaku bukan persahabatan dari masa kecil atau masa sekolah seperti pada umunya. Kami ber-sembilan, atas izin Allah ditakdirka bertemu di bangku perguruan tinggi. Apakah terlihat kekanakan punya sahabat di masa kuliah? Tidak juga.

Kami berasal dari latar keluarga berbeda, suku berbeda, karakter, dan masa lalu berbeda. Satu hal yang hingga saat ini selalu aku pikirkan bagaimana kami bisa bertahan menjaga persahabatan yang akan kami bawa sampai ke surga ini.

Awal masa perkuliahan adalah masa jahiliyahku. Dan saat itu aku selalu berdoa agar diberi petunjuk jalan yang lurus. Allah benar-benar mengabulkan doaku. Mereka ber-8 adalah jawaban yang dikirim Allah atas doaku selama ini. Alhamdulillah, 8 bidadari solihah, merekalah yang membantuku hijrah dan istiqomah.

Pertikaian kecil sesekali pernah terjadi antara kita. Tapi kawan, itulah yang menguatkan kita. Aku masih ingat saat satu diantara kita menangis, yang lain akan menutupi wajah sembabnya. Saat beberapa dari kita punya masalah pribadi kita akan selesaikan bersama.

Ingat? Berapa liter airmata yang telah kita keluarkan di saat bersaman? Titik air mata itulah saksi perjalan persahabatan kita.

Kawan, bangku perkuliahan tak akan abadi. Bagaimana setelah perkuliahan ini? Masikah mengingatku sebagai salah satu orang yang pernah tertawa dan menangis bersamamu?

Bersama ditulisnya tulisan ini aku mendengarkan Sebiru Hari Ini,

Bukankan hati kita telah lama menyatu
Dalam tali kisah persahabatan ilahi
...
Kenang masa indah kita, sebiru hari ini

Aku akan terus mengenang kalian, kawan, dan ingatlah ini selalu: Sahabat sampai jannah

Janji yang Tak Terucap

Apa langit sedang mendung?
Ada apa dengan wajah murung itu?
Lihat, pundakmu semakin menurun
Semangatmu tampak lesuh

Kawan, bicaralah pada Tuhan
Mintalah untuk dikuatkan pundakmu
Ini bukan hukuman, tapi ujian agar kau kuat

Aku mungkin tak akan mengatakannya
Tapi aku akan di samping saat kau butuh atau tidak, kau minta atau tidak
Biarlah aku seperti lintah penghisap darah

Biarkan aku di sampingmu, di saat-saat terburukmu
Orang yang pertama kali menyemangati
Aku tak perlu kau anggap ada
Tak peduli bagaimana aku
Aku ingin menjadi orang itu,
orang yang selalu ada dalam tiap proses hidupmu

#30DWC hari ke 26

Minggu, 25 Desember 2016

Kutanya Bulan

Malam tiba di bumi
Hanya ada aku dan dingin
Sepertinya bintang harus abstain
Menyisakan langit yang polos

Gelap menyelimuti malam panjang
Bulan nampak tak seterang biasanya
Kutatap langit, kutanya bulan
Kemana bintangku?
Aku benar-benar seperti langit polos tanpa bintang

Kutatap langit, kutanya bulan
Sedang apa dia sekarang?
Jauh ratusan kilometer di sana, apakah pernah dia memikirkanku sekali saja?

Kutanya lagi padamu, bulan...
Apakah dia masih seterang dulu?

#30DWC hari ke 24

Setetes Embun

Aku malu pada Allah, bahkan saat aku berbuat maksiat, masih Ia kabulkan doaku

Aku malu pada Allah, bahkan saat aku tidak pandai bersyukur, Ia masih memberiku nikmat

Aku malu pada Allah, bahkan saat aku melupakan-Nya, Ia masih meminjamkanku ruh pada tubuh ini

Aku masih diberi hidup, dan setetes embun menyaksikan kekuasaan-Nya

Lalu apalagi yang aku tunggu?

"Nikmat Tuhanku yang manakah yang aku dustakan?"

#30DWC hari ke 25

Back to Home, Please

Apa aku dilahirkan untuk menjadi orang yang kesepian? Aku harap tidak.

Apa aku dilahirkan untuk menjadi orang yang terus menunggu? Aku harap tidak.

Ayah, tidakkah rindu dengan keluarga mu? Pulanglah sebentar. Mari minum kopi dan duduk bersama. Atau mau memancing bersama? Aku bisa menemani.

Ibu, tidakkah lelah bekerja sepanjang hari? Kau seharusnya istirahat dan berada di rumah. Menyambut anak-anakmu yang baru pulang.

Kakak, tidak bisakah menemaniku bermain? Catur tidak seru dimainkan satu orang, aku butuh teman untuk dijadikan lawan main. Tapi nampaknya kakak terlalu sibuk.

Ayah, ibu, kakak, tidak bisakah kita berkumpul layaknya perkumpulan keluarga kecil? Berbagi cerita di meja makan. Tanpa diganggu telepon yang berdering tiap saat.

Aku kesepian, bisakah temani aku sebentar saja?
Aku hanya ingin berbagi cerita, kalau aku kesepian.
Pulanglah. Aku bosan menunggu.

#30DWC Hari ke 23

Film Tentang Guru yang Menginspirasi

Guru adalah pahlawan tanda jasa. Karna sehebat apapun guru mencerdaskan anak-anak bangsa tidak ada tanda jasa yang diberikan pada guru. Guru tetaplah guru. Selamanya akan digugu dan ditiru. Nah, guru nggak selamanya hanya transfer ilmu di kelas loh. Cerita-cerita dalam film berikut mungkin bisa memberi inspirasi buat kamu.

1. Teacher's Diary
Film Thailand yang satu ini menceritakan tentang pengalaman dua orang guru yang ditugaskan mengajar di sebuah tempat sangat terpencil dan tanpa jaringan komunikasi sama sekali. Bu Ann yang menjadi guru sebelumnya di Sekolah Kapal digantikan oleh Pak Gong yang tidak punya banyak pengalaman mengajar.

Mengajar di Sekolah Kapal yang terpencil mengajarkan mereka banyak pelajaran hidup. Sumber belajar yang terbatas, media pelajaran yang terbatas, sampai kondisi siswa yang harus tidur di sekolah karna jauhnya jarak rumah dengan sekolah. Film ini juga diangkat dari kisah nyata.

2. Freedom Writers
Diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang guru untuk membangkitkan semangat belajar para muridnya. Sebut saja guru ini Bu Erin. Bu Erin adalah guru baru di Woodrow Wilson High School, wilayah Amerika Serikat. Masih guru baru, tapi ditempatkan di kelas 'khusus' yang menampung anak-anak korban perkelahian antargeng gitu (kalau di Indonesia, semacam pelajar yang suka tawuran gitu kali ya), karena banyak guru yang tidak tahan dengan kelakuan kedua kubu ini. Di dalam kelas, kedua kubu tersebut duduk sesuai kubunya. Tidak ada anggota suatu kubu yang bergabung dengan kubu lainnya. Padahal mereka satu kelas, tapi suasananya.... ibarat 'senggol dikit bacok'.

Sebagai pendidik, Bu Erin harus cari cara untuk menghadapi murid-muridnya ini. Bu Erin meminta seluruh muridnya untuk menulis apapun yang mereka suka, bebas, di sebuah buku harian. Buku harian ini tiap harinya akan dikembalikan lagi pada Bu Erin. Ternyata cara ini berhasil! Dari tulisan-tulisan muridnya, Bu Erin akhirnya paham dengan apa yang harus ia lakukan.

3. The Queen's Classroom
Drama Korea nggak melulu tentang percintaan, orang kaya, atau remaja. Drama Korea yang satu ini berbeda. Menceritakan seorang guru garu yang mendidik murid-muridnya yang di bangku kelas 6 SD dengan caranya sendiri.

Mungkin guru baru itu terlihat sedikit agak killer, tapi apa yang didik adalah bukan hanya matematika atau bidang pelajaran tertentu, tapi bagaimana cara menghadapi realita kehiduoan yang keras ini. Film yang satu ini, bakal bikin kamu menitikkan air mata!

Nah! Itu dia film tentang guru yang mungkin bisa menginspirasi. Untuk kamu para calon guru, jadi guru yang terus menebar inspirasi, ya!



#30DWC Hari ke 22