Minggu, 12 Februari 2017

Ibu Kita Kartini (Part 1/2)

Matahari bersembunyi malu-malu. Langit masih gelap saat anak-anak mulai berpamitan pada orangtuanya pergi ke sekolah. Aku menyalimi Ibu dan Ayah lalu menyusuri perjalanan panjang menuju sekolah bersama adikku, Musa.

Ditemani Musa, aku menyusuri jalan setapak, melewati ladang, melewati pasar, dan menyebrangi sungai kecil. Pasar adalah godaan terbesar, saat melewati pasar, aku dan Musa sering kali berhenti di tempat toko mainan, melihat mainan-mainan bagus dari luar toko. Saat matahari mulai meninggi pasar akan menjadi sangat padat, sulit sekali mencari jalan untuk sampai di ujung pasar.

Merah putih berkibar anggun di ujung bambu yang ditancapkan di tanah lapangan sekolah. Semua murid SD Darah Juang yang jumlahnya tak lebih dari lima puluh
berbaris rapih memberi hormat pada sang merah putih. Dan yang penting dari upacara hari senin adalah kalimat-kalimat sakti Bu Tini. Bu Tini adalah guru kami yang sudah hampir tiga puluh tahun mengabdi untuk SD Darah Juang. Ada tiga
guru dan satu kepala sekolah di SD Darah Juang. Dua guru lainnya adalah Pak Ram dan Bu Jei yang hanya mengajar di hari tertentu, sisanya di Kota. Bu Tini bukan PNS, puluhan kali beliau mengikuti seleksi namun tidak pernah lolos.

Aku senang dengan Bu Tini, dengan keterbatasan yang ada Bu Tini setia mengajar walaupun tak jarang digaji dengan beras, buah-buahan, atau hasil tani lainnya.

"Kita boleh miskin harta, tapi jangan miskin ilmu apalagi miskin iman."

Begitu kalimat penutup dari Bu Tini. Upacara sudah selesai. Lonceng tanda masuk berbunyi. Semua murid berebut masuk kelas. Di sekolahku, hanya ada dua ruang
kelas. Kelas satu sampai tiga digabung dalam satu ruang kelas. Pun begitu dengan kelas empat sampai enam. Dalam ruangan dibatasi dengan sekat yang membatasi masing-masing kelas. Bu Tini pertama kali akan masuk ke kelasku di lima belas menit pertama. Lalu ke kelas lima selanjutnya ke kelas empat.

Tak perlu menyebut nama untuk mengabsen karena jumlah murid di kelas enam masih dapat dihitung jari. Dengan melihat seisi kelas sekilas Bu Tini sudah tau siapa yang tidak hadir.

"Kemana Ridho?" tanya Bu Tini

"Tadi saya ketemu Ridho di pasar, Bu. Sedang membantu orangtuanya berjualan." jawab Lanang teman sebangku Ridho.

Resah tentu jika satu dari dua belas muridnya tidak masuk sekolah, apalagi kelas enam akan menjalani ujian nasional. Bu Tini adalah orang paling sibuk jika ada satu muridnya yang tidak masuk sekolah, mendatangi orang tua murid, membujuk agar anaknya dibolehkan pergi sekolah. Gurat lelah terlihat jelas di wajahnya, namun semua sirna demi melihat semangat muridnya untuk datang sekolah.

"Baik anak-anak kita mulai belajar hari ini, ya. Silahkan, kita mau belajar pelajaran apa hari ini?"

Seperti biasa Bu Tini akan menanyakan pelajaran apa
yang ingin kami pelajari, kami bebas memilih. Dengan begitu murid menjadi sedikit santai dan nyaman karna tidak melulu mengikuti peraturan harus belajar sesuai pelajaran yang telah ditentukan. Murid-murid berbisik-bisik, membuat kesepakatan pelajaran apa yang ingin dipelajari.

"Bahasa Indonesia, bu!" Jawab Mahzul, si ketua kelas. Yang lain kompak mengangguk.

"Baiklah, kalau kalian memilih pelajaran Bahasa Indonesia, hari ini kita akan belajar membuat puisi. Setelah itu kalian bacakan puisinya."

"Tentang apa, Bu, puisinya?" Tanya Siti.

"Bebas, Siti. Buatlah sebaik mungkin...."

"Bu, bagaimana cara membuat puisi?" tanya Mahzul.

"Ya, pertanyaan bagus Mahzul...." Selanjutnya Bu Tini menjelaskan bagaimana membuat puisi.

"Siapa mau membacakan puisinya terlebih dahulu?" Semua diam, nampak masih sibuk dengan puisi masing. Aku sendiri sudah menyelesaikan puisiku. Ragu-ragu aku mengangkat tangan.

"Ya, Maryam. Boleh Ibu lihat puisimu?" aku mengangguk memberikan buku tugasku kepada Bu Tini.

Hanya sebuah tulisan besar bertuliskan "Dokter Pendidikan" dalam buku. Tidak ada tulisan panjang berisi puisi. Bu Tini sama
sekali tidak marah, beliau tahu aku pasti menuliskan puisiku dalam ingatanku bukan dalam buku.

"Sekarang kamu boleh membacakan puisimu, Maryam." Aku bisa melihat walau tak jelas senyum Bu Tini menyemangatiku, membuatku mantap berdiri di depan
kelas membacakan puisi.

"Dokter Pendidikan, oleh Maryam

Satu dua ditambah dikurang
Semua terus diulang-ulang
Ilmu merekat di dalam jiwa
Untuk bekal saat nanti tua

Aku tak ingin cerdas sendiri
Aku tak ingin pandai sendiri
Aku tak ingin bisa sendiri
Aku tak ingin tahu sendiri

Biarkan aku mengobati mereka
Mengobati kebodohan
Mengobati kemiskinan
Aku ingin menjadi dokter pendidikan

Semua murid bertepuk tangan, aku tidak tahu apakah puisiku bagus atau tidak, aku tidak peduli. Bu Tini menatapku lama, kemudian menitikkan airmata, sepertinya hanya aku yang sadar. Aku tidak mengerti mengapa. Bu Tini lalu menyuruhku duduk kembali.

"Puisi yang bagus, Maryam. Semoga cita-citamu itu tercapai. Selanjutnya siapa lagi ingin membacakan puisinya?"

Pada akhirnya aku tau mengapa Bu Tini menangis kala itu.

(Bersambung)

#30DWCJilid4 Hari ke 12

This entry was posted in

Sabtu, 11 Februari 2017

Tak Usah Merindu

Di keramaian aku merasa sepi
Di terangnya malam aku merasa gelap
Di indahnya senja aku merasa muram
Di sejuknya pagi aku merasa tak bisa bernafas

Orang bilang itu rindu

Rindu....
yang terjebak oleh masa lalu
Membuat hariku sendu
Menyita waktu untuk menunggu
Tapi tak ada yang datang bertamu

Oh hati,
Bisakah kita berdamai?
Merelakan rindu yang mengotori hati

Sungguh Tuhan lebih merindu
Tuhan akan terus menunggu
Tapi tak kunjung kau bertamu
Apalagi yang kau tunggu?

Tuhan di sisimu, tak perlu kau merasa sepi
Menyendirilah dalam kemuliaan cinta hakiki
Menjaga kehormatan untuk yang sedang menanti
Lebih baik daripada kau merindu sendiri

Bekasi, 11 Februari 2017

#30DWCjilid4 hari ke 11

This entry was posted in

Jumat, 10 Februari 2017

Telepon Satu Menit

Tiap hari, tiap kali aku menatap layar ponsel
Aku hanya berharap sesuatu
Sesuatu yang seharusnya tidak bisa aku harapkan
Tapi apa salahnya berharap?
Hanya sebuah keinginan yang mungkin tidak akan menjadi kenyataan

Hingga aku lelah
Lelah berharap, dan lelah melihat kenyataan
Dering yang sangat aku ingin dengar
Nama yang sangat ingin aku lihat di layar ponselku
Mematahkan semua harapanku

Aku ingin,
Melewatkan satu menit yang selalu kuingat itu lagi
Satu menit yang merubah hidupku
Satu menit yang menghancurkan tembok pertahananku dalam sekejap

Walau aku tahu itu mustahil
Tapi biarkan aku tetap berharap
Karna dengan berharap aku yakin
Aku masih merasakannya

Bekasi, 10 Februari 2017

#30DWCJilid4 hari ke 10

This entry was posted in

Kamis, 09 Februari 2017

Kolam Susu

Samudra bergelimang berlian
Berubah menjadi empang
Lautan air susu
Berubah menjadi lautan lumpur

Tak lagi ada ikan
Tak ada penghasilan
Pergi ke laut hanya mencari sampah
Pulang ke rumah menghantar lelah

Oi, kasihan nasib nelayan
Anak tak sekolah
Istri tak makan
Tapi handuk selalu basah, dengan air mata

Berlayar hanyalah petaka
Mereka diusir dari tanah mereka sendiri
Dijajah pengembang
Para asing perut buncit yang kenyang makan uang

Reklamasi, mereka bilang untuk pembangunan
Pembangunan atau keuntungan?
Pribumi mereka bodohi
Siapa yang sebenarnya bodoh?

Ah, Lautan tak lagi kolam susu
Kolam susu kini habis terkuras
Habis oleh keserakahan
Turut berduka atas matinya nurani mereka

Bekasi, 9 Februari 2017

#30DWCjilid4 hari ke 9

This entry was posted in

Rabu, 08 Februari 2017

Purnama di Februari



Puluhan purnama berlalu 
Waktu terus melaju seperti kuda pacu
Meninggalkan memori yang termangu
Waktu tak ingin lama menunggu

Rindu..

Rindu hanya ilusi hati
Kenapa aku terus merindu walau harus tersakiti?
Tolong... rindu ini diobati
Apa aku harus merindu sampai mati?

Rindu...

Seperti Senin merindukan Minggu
Merah merindukan ungu
Laut merindukan gunung
Aku merindukan kamu

Rindu...

Sampai bulan terbelahpun rindu tetap rindu
Tapi cerita ini telah kehilangan alurnya, aku tak bisa lagi menunggu
Mari akhiri sampai di sini
Purnama di Februari...

Februari...

Tak akan lagi aku menanti
Kini rindu sudah mati
Jika kami akan bersua
Pastilah itu di syurga

Untuk yang pernah kurindu, kini kusudahi.

Bekasi, 8 Februari 2017
#30DWCjilid4 hari ke-8


Gambar: wallpaperstock.net
This entry was posted in

Selasa, 07 Februari 2017

Jalan Setapak

Kukira hidup ini 
sesederhana menutup mata
Saat kubuka kembali, hal sulit dengan mudah kulupakan
Andai hidup semudah itu
Aku pasti ingin hidup seribu tahun lahi

Kususuri garis jalan hidup ini
Perjalanan panjang melelahkan
Tapi kapan aku sampai?
Tak ada ujung untuk menjadi harapan

Di jalan setapak aku terseok-seok
Dengan peluh dan darah
Menggapai ujung yang entah ada atau tidak
Kakiku tetap berjalan, selama ia mampu

Kemana tujuan?
Aku berjalan tanpa tujuan adalah mustahil
Kemana harapan?
Aku hidup tanpa harapan seperti mati

Ternyata jalan ini panjang
Aku hanya perlu terus berjuang
Walau tujuan jauh dari mata memandang
Aku akan tetap berjalan demi yang Maha Penyayang

Bekasi, 7 Februari 2017
#30DWCJilid4 hari ke-7

This entry was posted in

Senin, 06 Februari 2017

Negeri Komedi

Selamat datang!
Di negeri dimana rakyat miskin ditertawakan
Rakyat lemah ditertawakan

Gerai tawa penguasa kesenangan mendapat pundi rupiah
Gerai tawa penguasa kesenangan dibodohi asing
Gerai tawa yang menggema di seluruh negeri

Ah, lucunya negeri ini
Saat suara klakson menjadi penghibur rakyat kecil
Derita rakyat kecil lah penghibur para penguasa
Tentu mereka tidak akan membiarkan rakyat kecil mereka bahagia

Saat laut dirusak dan sumber daya dikuras, mereka tertawa bahagia
Saat negara tak punya uang laku mereka memeras rakyat kecil, mereka tertawa bahagia

Maka ketika Tuhan merampas semua dari tangan mereka, masihkah mereka tertawa seperti itu?

Bekasi, 2016

#30DWCjilid4 hari ke-6

This entry was posted in